Hampir seluruh sudut perkotaan di Maroko, keberadaan anjing yang berkeliaran secara bebas sangat mudah dijumpai. Hewan-hewan tersebut tampak melintas di jalan, menyusuri trotoar, hingga berada di sekitar fasilitas publik dan lingkungan permukiman. Fenomena ini menjadi salah satu pemandangan yang relatif khas dalam keseharian warga asli Maroko maupun mahasiswa Maroko, dan keberadaan hewan yang kadang kala tidak berada dalam pengawasan pemiliknya, atau bahkan tidak ada pemiliknya. Contoh kasuistiknya ialah baru 5 langkah saja keluar dari rumah irchad sangat banyak anjing-anjing yang berlalu lalang, menjilat benda-benda yang basah, membuka sampah dll.
Sudah tidak diperdebatkan lagi di kalangan mazhab Syafi’i terkait kenajisan anjing, anjing sendiri dihukumi najis mughallazah (najis berat) entah itu liurnya, rambutnya, keringatnya dll. Yang menuntut seseorang mukalaf membasuh anggota yang terkena najis tersebut dengan tujuh kali basuhan air, yang mana salah satunya dengan debu.
الخامس ولوغ الكلب يغسل سبعا احداهن بالتراب وعرقه وسائر اجزائه كاللعاب
(Syarah Al-Kabir li Ar-Rafi’i 1/258)
Dari situ, kemudian muncul sebuah pertanyaan dalam benak. Apakah dalam menghadapi realitas demikian diharuskan bagi penganut mazhab Syafi’i (seperti mahasiswa Indonesia di Maroko) untuk membasuh sandal dan pakaiannya hingga tujuh kali tiap kali menginjakkan kaki di trotoar atau jalanan yang dipenuhi anjing?. Mengingat bahwa kita berpijak pada pendapat bahwa anjing berstatus najis mughallazah.
Dalam literatur mazhab Syafi‘i, secara sederhana, untuk menentukan apakah benda suci (seperti sandal, pakaian, atau sarung) menjadi terkena najis ketika bersentuhan dengan jalan atau trotoar yang biasa dilalui anjing, dapat dilihat dari kondisi basah atau keringnya kedua benda tersebut.
Jika keduanya sama-sama kering, maka najis tidak berpindah, sehingga benda suci tetap dihukumi suci. Namun, jika salah satunya dalam keadaan basah/lembap, maka najis dapat berpindah sehingga benda suci dihukumi mutanajis. Demikian pula jika keduanya dalam keadaan basah, maka najis dapat berpindah kepada benda suci.
Maka dari sini bisa disimpulkan, ketika musim kemarau yang di mana jalanan atau trotoar itu kering, jika sandalnya kering pula, maka sandal tersebut tidak dihukumi mutanajis.
المغلظة ما تنجس من الطاهرات بلعابها او بولها او عرقها او بملاقات اجزاء بدنها مع توسط رطوبة من احد جانبيه
(Kasyifat As-Saja: 49)
إذا اتصل النجس أو المتنجس بالطاهر نظر فإن كانا جافين فلا تؤثر النجاسة بالطاهر بناء على القاعدة الفقهية : الجاف طاهر بلا خلاف وإن كان أحدهما أو كلاهما رطبا تنجس الطاهر بالآخر
(Fiqh Al-Ibadat :187)
Namun, persoalan menjadi lebih kompleks ketika memasuki musim penghujan. Air hujan yang membasahi jalan dan trotoar dapat bercampur dengan bekas pijakan maupun bagian tubuh anjing yang melintas di tempat tersebut. Dalam kondisi demikian, apabila kaidah perpindahan najis sebagaimana telah dijelaskan dan diterapkan secara tekstual, maka terdapat kemungkinan kuat benda suci yang bersentuhan dengan permukaan tersebut dihukumi mutanajis. Realitas semacam ini tentu menghadirkan persoalan tersendiri, khususnya mahasiswa yang beraktivitas sehari-hari di Maroko dan tidak mungkin sepenuhnya menghindari jalan atau fasilitas umum yang kerap dilalui anjing.
Dalam menghadapi kondisi yang mengandung kesulitan semacam ini, syariat Islam memiliki prinsip kemudahan yang tercermin dalam kaidah fikih:
المشقة تجلب التيسير
“Kesulitan mendatangkan kemudahan.”
Kaidah ini menunjukkan bahwa ketika penerapan suatu ketentuan syariat menghadirkan kesulitan yang melampaui batas kewajaran, syariat memberikan bentuk-bentuk keringanan sesuai dengan kadar dan kondisi kesulitan tersebut. Namun demikian, kaidah ini tidak berarti bahwa setiap kesulitan secara otomatis menggugurkan suatu hukum. Keringanan tetap harus dikembalikan kepada standar rukhsah atau ‘afwu (tolerir) yang telah ditetapkan oleh syariat.
Dengan demikian, keberadaan anjing yang banyak berkeliaran di ruang publik, ditambah kondisi jalan yang basah pada musim hujan, tidak serta-merta menjadikan seluruh jalan yang dilalui anjing dihukumi najis. Persoalan tersebut perlu dikaji dengan mempertimbangkan tingkat kepastian adanya najis, kemungkinan bercampurnya najis dengan tanah atau lumpur, serta tingkat kesulitan dalam menghindarinya. Di sinilah kaidah المشقة تجلب التيسير memperoleh relevansinya sebagai salah satu landasan dalam memahami adanya keringanan hukum pada kondisi yang sulit dihindari.
Atas problematika tersebut, para ulama mazhab Syafi’i menuturkan sejumlah perincian (tafṣīl), dan ikhtilaf (perbedaan) ulama berdasarkan kondisi najis, keberadaan ‘ain/hukmiyyah al-najāsah, tingkat kesulitan menghindarinya, serta karakteristik tempat yang menjadi lokasi berlangsungnya kontak tersebut.
- Jika najis itu tampak, dan dapat dibedakan maka tetap dihukumi najis selagi najis tersebut tidak memenuhi rata jalan raya maupun trotoar.
- Jika najis itu tidak tampak, dan tidak dapat dibedakan atau sulit dibedakan, dan najis tersebut sudah larut entah dengan air maupun tanah, maka kondisi seperti ini ulama sepakat bahwa najisnya di ma’fu (dimaafkan) لمشقة الاحتراز (Fathul Muin : 82)
- Jika najis itu tampak, dan dapat dibedakan seraya najis tersebut sudah memenuhi rata jalan maka Imam Ibn Hajar dan Imam Syibromalisi berbeda pendapat menurut Imam Syibromalisi (muktamad) dima’fu, sedangkan menurut Imam Ibnu Hajar tidak dima’fu karena menurut beliau selagi najis tersebut itu tampak, maka tidak dima’fu.
قَوْلُ الْمَتْنِ (وَطِينُ الشَّارِعِ إلَخْ) خَرَجَ بِهِ عَيْنُ النَّجَاسَةِ كَالْبَوْلِ الَّذِي بِالشَّارِعِ قَبْلَ اخْتِلَاطِهِ بِطِينِهِ فَلَا يُعْفَى عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ وَمِثْلُهُ مَا لَوْ نَزَلَ كَلْبٌ فِي حَوْضٍ مَثَلًا أَوْ نَزَلَ عَلَيْهِ مَطَرٌ أَوْ مَاءٌ رَشَّهُ السَّقَّاءُ وَانْتَفَضَ وَأَصَابَ الْمَارِّينَ مِنْهُ شَيْءٌ فَلَا يُعْفَى عَنْهُ وَنُقِلَ عَنْ شَيْخِنَا الشَّيْخِ سَالِمٍ الشَّبْشِيرِيِّ الْعَفْوُ عَمَّا تَطَايَرَ مِنْ طِينِ الشَّوَارِعِ عَنْ ظَهْرِ الْكَلْبِ لِمَشَقَّةِ الِاحْتِرَازِ عَنْهُ وَفِيهِ وَقْفَةٌ وَمِثْلُهُ أَيْضًا مَا جَرَتْ عَادَةُ الْكِلَابِ بِهِ مِنْ طُلُوعِهِمْ عَلَى الْأَسْبِلَةِ وَرُقُودِهِمْ فِي مَحَلِّ وَضْعِ الْكِيزَانِ وَهُنَاكَ رُطُوبَةٌ مِنْ أَحَدِ الْجَانِبَيْنِ فَلَا يُعْفَى عَنْهُ وَمِمَّا يَشْمَلُهُ طِينُ الشَّارِعِ مَا يَقَعُ مِنْ الْمَطَرِ أَوْ الرَّشِّ فِي الشَّوَارِعِ وَتَمُرُّ فِيهِ الْكِلَابُ وَتَرْقُدُ فِيهِ بِحَيْثُ يَتَيَقَّنُ نَجَاسَتُهُ بَلْ، وَكَذَا لَوْ بَالَتْ فِيهِ وَاخْتَلَطَ بَوْلُهَا بِطِينِهِ أَوْ مَائِهِ بِحَيْثُ لَمْ يَبْقَ لِلنَّجَاسَةِ عَيْنٌ مُتَمَيِّزَةٌ فَيُعْفَى مِنْهُ عَمَّا يَعْسُرُ الِاحْتِرَازُ عَنْهُ فَلَا يُكَلَّفُ غَسْلَ رِجْلَيْهِ مِنْهُ
(Tuhfatul Muhtaj : 129)
وَيُعْفَى عَنْ طِينِ مَحَلَّ مُرُورٍ مُتَيَقَّن نَجَاسَتُهُ وَلَوْ مِنْ مُغَلَّظٍ بِشَرْطِ أَنْ تَكُونَ النَّجَاسَةُ مُسْتَهْلِكَةً فِيهِ ، أَمَّا إِذَا تَمَيَّزَتْ فَلَا يُعْفَى عَنْهُمَا مَا لَمْ تَعْمَّهُ ، فَإِنْ عَمَّتْهُ عُفِيَ عَنْهَا عَلَى المُعْتَمَدِ كَمَا فِي الشَّبْرَامُلِسِي خِلَافًا لِابْنِ حَجَرٍ حَيْثُ اسْتَوْجَهَ عَدَمُ العَفْوِ وَلَا فَرْقَ فِي مَحَلَّ المُرُورِ بِينَ الشَّارِعِ وَغَيْرِهِ كَدَهْلِيزِ بَيْتٍ وَحَمَامٍ وَمَا حَوْلَ الفُسَاقِي مِمَّا لَا يُعْتَادُ تَطْهِيرُهُ إهـ
(Fath Al-’Alam : 520)
Kendati demikian, ‘afwu (tolerir) terhadap najasah juga memiliki batasannya sendiri yaitu sekiranya orang yang berjalan tidak bertujuan/sengaja berjalan melewati najasah tersebut
الْعَفْوُ بِمَا إذَا لَمْ يَتَعَمَّدْ الْمَشْيَ عَلَيْهِ. قَالَ الزَّرْكَشِيُّ: وَهُوَ قَيْدٌ مُتَعَيِّنٌ
(Mughni Al-Muhtaj : 1/402)
Namun terdapat solusi terakhir ketika sangat tidak memungkinkan untuk mempraktikkan ketentuan yang telah dipaparkan di atas yaitu dengan bertaklid ke Imam Malik, yang menyatakan bahwa anjing itu tidak najis. Selagi tidak terjadi talfiq.
وَخَصَّ الْمَالِكِيَّةُ الْغَسْل سَبْعًا بِمَا إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءٍ فِيهِ مَاءٌ فَقَطْ ، وَلاَ يُشْتَرَطُ التَّتْرِيبُ عِنْدَهُمْ ، وَأَمَّا إِذَا أَدْخَل الْكَلْبُ رِجْلَهُ أَوْ لِسَانَهُ بِلاَ تَحْرِيكٍ فِي الإِْنَاءِ ، أَوْ كَانَ الإِْنَاءُ فَارِغًا وَلَعِقَهُ الْكَلْبُ فَلاَ يُسْتَحَبُّ غَسْلُهُ عِنْدَهُمْ ، وَالْحُكْمُ بِالْغَسْل سَبْعًا تَعَبُّدِيٌّ عِنْدَ الْمَالِكِيَّةِ وَذَلِكَ لأَِنَّهُمْ يَقُولُونَ بِطَهَارَةِ الْكَلْبِ
(Al Mausuah Al Fiqhiyyah : 14/50)
Karena terkadang dalam fikih Syafi’i sendiri ulama Syafi’iyyah-nya memandang intiqol (perpindahan madzhab) itu bagian dari kebijaksanaan dalam cara bermazhab itu sendiri, di bawah ini adalah contoh (tamsil) mengenai intiqal, sebagai langkah bijaksana dan ketentuan ketentuannya, setelah sebelumnya berbicara adanya masyakah.
وَسُئِلَ) – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – عَمَّا حُكِيَ عَنْ الْفَقِيهِ أَحْمَدَ بْنِ مُوسَى نَفَعَ اللَّهُ سبحانه وتعالى بِهِ أَنَّهُ قَالَ ثَلَاثُ مَسَائِلَ لَا يُفْتَى بِهَا عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ بَلْ عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَامِ أَبِي حَنِيفَةَ وَهُنَّ نَقْلُ الزَّكَاةِ وَدَفْعُ زَكَاةِ شَخْصٍ إلَى صِنْفٍ وَاحِدٍ وَإِلَى شَخْصٍ وَاحِدٍ
إلى أن قال
فأجاب) مَا نُقِلَ عَنْ الْأَئِمَّةِ الْمَذْكُورِينَ لَا بَأْسَ بِهِ فِي التَّقْلِيدِ فِيهِ لِعُسْرِ الْأَمْرِ فِيهِ سِيَّمَا الْأَخِيرَتَانِ وَمَعْنَى الْقَوْلِ بِأَنَّهَا لَا يُفْتَى فِيهَا عَلَى مَذْهَبِ الْإِمَام الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَا بَأْسَ لِمَنْ اسْتَفْتَى فِي ذَلِكَ أَنْ يُرْشِدَهُ مُسْتَفْتِيه إلَى السُّهُولَةِ وَالتَّيَسُّرِ وَيُبَيِّنُ لَهُ وَجْهَ ذَلِكَ بِذِكْرِ الشُّرُوطِ عِنْدَ الشَّافِعِيِّ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – فَإِنْ وَطَّنَ نَفْسَهُ عَلَى تَحَمُّلِ تِلْكَ الْمَشَاقِّ وَرِعَايَةِ مَذْهَبِهِ فَهُوَ الْأَوْلَى وَالْأَحْرَى لِكَثْرَةِ الْخِلَافِ فِي جَوَازِ التَّقْلِيدِ وَعُسْرِ اسْتِيفَاءِ شُرُوطِهِ إذْ يَلْزَمُ مَنْ قَلَّدَ إمَامًا فِي مَسْأَلَةٍ أَنْ يَعْرِفَ جَمِيعَ مَا يَتَعَلَّقُ بِتِلْكَ الْمَسْأَلَةِ فِي مَذْهَبِ ذَلِكَ الْإِمَام وَلَا يَجُوزُ لَهُ التَّلْفِيقُ *مِثَالُ ذَلِكَ مَنْ قَلَّدَ مَالِكًا – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – فِي طَهَارَةِ الْكَلْبِ* يَلْزَمُهُ أَنْ يَجْرِيَ عَلَى مَذْهَبِهِ فِي مُرَاعَاةِ سَائِرِ مَا يَقُولُ بِهِ مِنْ النَّجَاسَاتِ كَالْمَنِيِّ وَيَلْزَمُهُ أَنْ يُرَاعِيَ مَذْهَبَهُ فِي الطَّهَارَةِ كَالْوُضُوءِ وَالْغُسْلِ فَيَمْسَحُ رَأْسَهُ كُلَّهَا فِي وُضُوئِهِ وَيُوَالِي فِي وُضُوئِهِ وَغُسْلِهِ وَيَدْلُكُ أَعْضَاءَهُ فِيهِمَا وَكَذَلِكَ يَلْزَمُهُ أَنْ يُرَاعِيَ مَذْهَبَهُ فِي الصَّلَاةِ فَيَأْتِي بِجَمِيعِ مَا يُوجِبُهُ فِيهَا وَمَتَى لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ كَأَنْ مَسَّهُ كَلْبٌ فَلَمْ يُسَبِّعْ ثُمَّ مَسَحَ بَعْضَ رَأْسِهِ فِي وُضُوئِهِ وَصَلَّى كَانَتْ صَلَاتُهُ بَاطِلَةً بِالْإِجْمَاعِ لِأَنَّهُ لَمْ يَجُزْ عَلَى مَا قَالَهُ الشَّافِعِيُّ وَحْدَهُ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ – وَلَا عَلَى مَا قَالَهُ مَالِكٌ وَحْدَهُ – رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ –
(Al Fatawa Al Kubro Al Fiqhiyyah : 4/75-76)
Demikianlah, persoalan najis anjing di jalanan Maroko tidak semestinya dipahami secara mutlak tanpa melihat kondisi dan tingkat kesulitan yang dihadapi. Syariat memberikan ruang ‘afwu pada najis yang sulit dihindari, khususnya pada lumpur jalan yang telah tercampur dan tidak lagi tampak jelas najasahnya, selama seseorang tidak sengaja menginjak tempat yang diketahui terdapat najis. Hal ini menunjukkan bahwa penerapan fikih tidak hanya memperhatikan ketentuan hukum secara tekstual, tetapi juga mempertimbangkan realitas dan kesulitan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Wallahu a’lam bis sowab…
Referensi:
– Syarah Al-kabir li Ar-rofi’i 1/258
– Kasifatu As saja 49
– Fiqh Al-ibadaat 187
– Fath Al-muin 82
– Tuhfatul muhtaj 129
– Fathul alam 520
– Mughni Al muhtaj 1/420
– Al mausuah al fiqhiyyah (14/50)
– Al fatawa al kubro al fiqhiyyah ( 4/75-76)
Penulis: Mohammad Averoes Yusrol Arif
Simak kegiatan terbaru kami,

