Rabat, Ahad (25/10/2026)—Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Maroko menyelenggarakan webinar peringatan Hari Santri Nasional dengan tema “Ketika AI Menjawab: Menimbang Peran Guru, Sanad, dan Tradisi Keilmuan Santri di Era Digital.” Acara berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada pukul 13.00 GMT waktu Maroko dan 20.00 WIB dengan menghadirkan dua narasumber terpilih, yaitu Saudara Zidni Ilham Failasufa, Lc., alumni S1 Universitas Sidi Mohamed Ben Abdellah, Fes, Maroko, yang saat ini menempuh studi pascasarjana di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII); dan Saudari Tazkia Aulia Rahmah, Lc., alumni S1 Universitas Al-Qarawiyyin, Maroko, serta program magister Islamic Education di UIII, yang kini aktif sebagai Direktur SDIT Darul Mughni Al-Maaliki.
Pembukaan dan Sambutan
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Saudara Muhammad Ma’shum. Sambutan pertama disampaikan oleh Saudara Dimas Ahnan Azzam selaku perwakilan PCINU Maroko. Ia berharap webinar ini tidak sekadar membuka wawasan santri mengenai teknologi, tetapi juga membimbing mereka untuk mengaplikasikannya secara bijak. Sambutan kedua disampaikan oleh Saudari Nilna Zahwa Zaharah selaku perwakilan pengurus Pimpinan Cabang Istimewa (PCI) Fatayat NU Maroko. Ia menegaskan, “Mungkin AI memang dapat memberikan jawaban secara praktis dan instan, tetapi ia tidak bisa menggantikan proses dalam mendapatkan jawaban tersebut.”
Sambutan terakhir disampaikan oleh Saudara M. Ghurril Muhajjalin selaku Ketua Pelaksana acara. Ia menjelaskan bahwa webinar ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk ikhtiar untuk merefleksikan posisi santri di tengah derasnya arus perkembangan zaman dan teknologi AI.
Pemaparan Materi
Sesi pemaparan materi diawali oleh Saudari Tazkia Aulia Rahmah, Lc. Sebagai figur yang bergelut langsung dengan dunia pendidikan santri, ia menuturkan bahwa di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ini, kita tidak bisa menolak teknologi secara mentah-mentah. Namun, tugas utama santri adalah tetap mempertahankan penalaran kritis terhadap setiap informasi yang diterima, terutama dari teknologi AI. Ia menegaskan bahwa kita tidak akan pernah mampu mendapatkan ilmu yang benar dan presisi tanpa belajar kepada guru yang sanad keilmuannya tersambung kepada Rasulullah saw.
Ia kemudian merincikan tiga tahapan ilmu: pertama, informasi (information), yaitu input awal yang sekadar menyajikan data tanpa kepastian benar atau salah; kedua, pengetahuan (‘ilm), yaitu ilmu yang telah terverifikasi kebenarannya melalui pemahaman yang benar, guru, kitab, maupun proses belajar langsung (talaki), sehingga melahirkan keyakinan; dan ketiga, pembentukan karakter (tarbiah/holostic upbringing), yaitu sebuah proses yang mencakup ta’lim, ta’dib, dan pembentukan karakter agar ilmu menjadikan manusia secara utuh.
Menurutnya, AI dapat membantu pada tahap pertama dengan menyediakan informasi secara cepat dan mungkin membantu pada tahap kedua. Namun, AI tidak akan pernah bisa menggantikan posisi tahap ketiga. Mendapatkan informasi bisa dilakukan dalam hitungan detik, tetapi mencari ilmu mutlak memerlukan proses dan bimbingan.
Pemateri kedua, Saudara Zidni Ilham Failasufa, Lc., memulai paparannya dengan kritik terhadap modernitas Barat yang kerap memaksakan keseragaman dan standar rasionalitas tunggal (impose singularity), sehingga sering kali menafikan kebenaran atau kenyamanan emosional serta simbolik lokal. Sebagaimana dikonseptualisasikan oleh Edward Said, yaitu penjajahan tidak selalu bersifat fisik (kolonialitas). Di satu sisi, kemudahan akses terhadap literatur dan ilmu di era digital mempermudah proses belajar; akan tetapi di sisi lain, hal ini memicu fragmentasi otoritas keagamaan. Pintu terbuka lebar bagi siapa saja untuk berbicara tentang agama tanpa melalui sanad keilmuan yang jelas, sementara teks tertulis kerap diagungkan secara berlebihan tanpa melibatkan tradisi lisan atau genealogi keilmuan.
Selanjutnya, Saudara Zidni juga memaparkan relevansi metode tradisional dalam menghadapi tantangan modern dan AI. Tradisi transmisi ilmu dalam Islam mengenal tiga metode utama, yaitu sama’ (bandongan), qira’ah (sorogan), dan imla’, yang semuanya bertujuan menjaga orisinalitas keilmuan. Ia menegaskan bahwa AI dan teknologi modern hanya menampilkan data atau ilmu yang bersifat teoretis dan kognitif mentah. Adapun pengalaman spiritualitas, kedalaman emosional, serta peneladanan perilaku tidak akan pernah diperoleh tanpa interaksi langsung dengan guru melalui sanad, mulazamah, dan khidmah.
Kesimpulannya, sanad berfungsi sebagai penanda epistemologis dan tradisi penjagaan mata rantai keilmuan lintas generasi, agar umat Islam tidak terjebak menjadi sekadar penampung data statis yang kering dari nilai moral.
Diskusi dan Penutup
Sesi pemaparan materi yang padat dan mendalam ini dilanjutkan dengan diskusi interaktif serta tanya jawab bersama peserta. Webinar ini mendapat sambutan antusias dengan dihadiri tidak kurang dari 125 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari santri, pelajar, hingga masyarakat umum. Acara ditutup dengan kesimpulan bersama mengenai urgensi memanfaatkan teknologi AI sebatas sebagai alat bantu pencarian informasi dasar, dengan tetap memegang teguh bimbingan guru, sanad, dan tradisi keilmuan di pesantren.


Liputan oleh: LTNNU Maroko
Ikuti kegiatan kami melalui instagram @pcinumaroko
Simak artikel terbaru kami,

