One Month One Book PCI Fatayat NU Maroko: Yang Telah Lama Pergi
Sabtu, 10 Oktober 2026—Bidang Pendidikan dan Dakwah PCI Fatayat NU Maroko kembali mengadakan ruang diskusi bersama Sahabat Farrihna Bihurin ‘In dengan judul buku Yang Telah Lama Pergi karya Tere Liye.
Sahabat Farrihna membuka presentasinya dengan memberikan informasi tentang penulis buku tersebut. Ia menjelaskan bahwa Tere Liye merupakan salah satu penulis Indonesia yang telah menghasilkan banyak karya best seller. Namun, informasi mengenai kehidupan pribadi dan keluarganya relatif terbatas. Dalam kegiatan One Month One Book (OMOB) kali ini, pembahasan berfokus pada sebuah novel semi-historis berlatar Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-13 yang memadukan petualangan, konflik, pengkhianatan, dan perenungan kehidupan.
Pada sesi inti pembahasan, Sahabat Farrihna mengelompokkan materi menjadi beberapa bagian sebagai berikut:
1. Pembahasan Isi Novel
Novel ini menceritakan perjalanan Mas’ud, seorang bangsawan Baghdad sekaligus ahli peta yang ingin menyelesaikan warisan terakhir ayahnya, yaitu sebuah peta menuju pulau emas di Swarnadwipa (Sumatra). Dalam perjalanan lautnya, kapal Mas’ud diserang perompak. Ia kemudian diselamatkan oleh seorang biksu bernama Tsing yang memintanya ikut dalam kapal bajak laut pimpinan Remasut.
Awalnya Mas’ud menolak, tetapi akhirnya ia mengikuti ajakan tersebut. Keputusan itu mengubah jalan hidupnya dan membawanya ke dalam berbagai konflik, mulai dari memahami dendam Remasut terhadap Kerajaan Sriwijaya, latihan pedang bersama Emishi—samurai buta asal Jepang—hingga strategi menaklukkan Kota Panai.
Beberapa tokoh penting dalam novel ini antara lain:
– Al Mas’ud: bangsawan Baghdad yang cerdas, keras kepala, ahli peta, dan memiliki hati yang baik;
– Remasut: pemimpin perompak yang kejam dan menyimpan dendam mendalam terhadap Kerajaan Sriwijaya akibat tragedi masa lalunya;
– Emishi: samurai buta yang memiliki dendam dan kehilangan tuannya akibat peristiwa perampokan;
– Pembayun: penasihat Remasut yang berperan dalam lingkungan kekuasaan para perompak;
– Biksu Tsing dan Biksu Tsang: tokoh yang berkaitan dengan perjalanan spiritual dan pengaruh kekuasaan dalam cerita; dan
– Pendekar Khan: tokoh yang berkaitan dengan konflik Emishi dan masa lalu tuannya.
2. Tema Utama Novel
Tema dominan novel ini meliputi dendam terhadap Sriwijaya, kekuasaan, kehilangan, penerimaan luka, serta batas abu-abu antara kebaikan dan keburukan.
Buku ini memperlihatkan bahwa seseorang tidak bisa dinilai hanya dari penampilannya atau kedudukannya. Para perompak pun memiliki etika, sementara pihak kerajaan tidak selalu digambarkan benar dalam mengelola kekuasaan dan memperlakukan rakyat.
3. Kelebihan dan Kekurangan
– Kelebihan: Novel memiliki nilai sejarah yang dikemas melalui narasi ringan sehingga menarik bagi generasi muda. Dunia ceritanya luas, tokohnya beragam, serta alurnya memberikan wawasan dan sudut pandang baru. Alur maju-mundur juga membantu pembaca memahami latar belakang dan konflik para tokoh.
– Kekurangan: Beberapa bagian dinilai kurang variatif karena alurnya mudah ditebak. Selain itu, akhir novel dirasa kurang memuaskan karena sosok raja Sriwijaya yang menjadi sasaran dendam ternyata telah meninggal dunia.
4. Bagian yang Paling Disukai
Salah satu bagian yang disukai adalah strategi penaklukan Kota Panai. Benteng kota tersebut digambarkan sangat kokoh dan telah berdiri sekitar 200 tahun. Mas’ud menggunakan pengamatan dan penelitian untuk menemukan kelemahannya, yaitu retakan yang muncul akibat gempa. Retakan tersebut kemudian dimanfaatkan hingga benteng runtuh. Bagian ini menunjukkan pentingnya kesabaran, kecermatan, dan strategi dalam menghadapi masalah.
Setelah menjelaskan bagian yang paling disukai, pemateri kemudian memberikan penilaian 4/5 terhadap novel ini dan menyampaikan kalimat refleksi sebagai penutup sesi presentasi:
“Bukan tentang seberapa dalam sakitnya, bukan tentang seberapa besar dendam yang pernah ada, tapi tentang bagaimana kita bisa berdamai, melanjutkan hidup, dan mengambil pelajaran berharga di sela duka.”
Pemateri menambahkan bahwa novel ini mengajak pembaca memahami bahwa luka masa lalu dapat memengaruhi seseorang, tetapi tidak seharusnya menjadi pembenaran untuk melakukan kejahatan. Dendam yang terus dipelihara justru dapat mempersempit hati dan membuat seseorang terjebak dalam masa lalu.
Maka dari itu, pemateri menyampaikan bahwa seseorang perlu menjaga harapan agar tetap seimbang dengan kenyataan. Selain itu, dendam dan ambisi untuk menjatuhkan orang lain tidak selalu membawa kepuasan.
Sebagai penutup forum diskusi, moderator menambahkan kesimpulan bahwa ambisi untuk menjatuhkan seseorang tidak akan pernah benar-benar memberikan kepuasan bagi diri sendiri. Melalui novel Yang Telah Lama Pergi, pembaca diajak memahami dampak dendam, belajar menerima masa lalu, dan mengambil pelajaran dari setiap kehilangan.
Kegiatan One Month One Book menjadi ruang diskusi untuk memperluas wawasan, melatih pemikiran kritis, serta mengambil nilai-nilai kehidupan dari karya sastra.
Penasaran dengan hal-hal menarik dan insight lainnya dari buku ini? Temukan selengkapnya dengan membaca Yang Telah Lama Pergi karya Tere Liye.
Notula OMOB PCI Fatayat NU Maroko, ditulis oleh: Siti Tsania Mahira, Mahasiswi Universitas Abdelmalek Essaadi, Tetouan.
Ikuti kegiatan kami lewat instagram @fatayatnumaroko
Simak artikel terbaru kami,

