One Month One Book Fatayat NU Maroko: Perempuan di Titik Nol
Pada hari Sabtu, 19 September 2026—Bidang Pendidikan dan Dakwah PCI Fatayat NU Maroko mengadakan kegiatan One Month One Book (OMOB) yang dibawakan oleh sahabat Nazla Kayla Harahap sebagai pemateri. Sahabat Nazla mempresentasikan buku berjudul Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi, seorang dokter, psikiater, dan aktivis perempuan asal Mesir. Buku ini awalnya ditulis dalam bahasa Arab dengan judul امرأة عند نقطة الصفر mengangkat kritik terhadap ketidakadilan serta sistem sosial yang membatasi kebebasan perempuan.
Pemateri menjelaskan bahwa Nawal menulis buku ini berdasarkan pengalamannya sebagai psikiater yang bertugas untuk meneliti keadaan para tahanan perempuan di penjara Mesir pada masa itu (sekitar tahun 70-an).
Cerita diawali ketika Nawal datang ke penjara dan bertemu Firdaus, seorang tahanan yang divonis hukuman mati. Setelah awalnya enggan berbicara, Firdaus akhirnya menceritakan perjalanan hidupnya.
Dalam sesi ini, pemateri memaparkan siklus eksploitasi dalam rangkaian alur kehidupan Firdaus sebagai berikut:
1. Masa Kecil (Domestik)
Kisah Firdaus bermula dari sebuah keluarga miskin di sebuah desa di Mesir. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang memandang perempuan sebagai beban dan memiliki nilai lebih rendah dibandingkan hasil panen. Ia juga menyaksikan bagaimana perempuan diperlakukan secara tidak adil dan dituntut untuk selalu mengikuti keinginan laki-laki.
Dalam keluarganya sendiri, Firdaus mengalami kekerasan dari ayahnya. Ia juga mengalami pelecehan dari pamannya dan teman masa kecilnya, Mohammadain. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Firdaus tinggal bersama pamannya yang kemudian kembali melakukan kekerasan dan pelecehan terhadapnya, bahkan dengan mengatasnamakan agama untuk membenarkan tindakannya.
2. Perkawinan Paksa (Institusi Legal)
Pada fase ini, Firdaus berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tetapi pada kenyataannya ia justru dijodohkan secara paksa oleh pamannya sendiri kepada Syekh Mahmoud—seorang lelaki tua yang usianya terpaut sangat jauh dari Firdaus—demi imbalan uang. Firdaus harus menjalani kehidupan rumah tangga bersama Syekh Mahmoud yang mempunyai perangai kasar sehingga ia sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Lalu, ia memutuskan untuk kabur dan kembali ke rumah pamannya, tetapi di sana ia juga tidak mendapatkan perlindungan. Akhirnya, Firdaus meninggalkan rumah paman beserta suaminya dan memutuskan untuk pergi jauh.
3. Jalanan dan Pelacuran (Eksploitasi Terbuka)
Setelah memantapkan keputusan untuk pergi dari rumah pamannya dan suaminya demi mencari perlindungan, Firdaus justru kembali menghadapi nasib buruk. Dalam pelariannya, ia bertemu dengan Bayoumi yang awalnya terlihat baik dan berniat menolongnya. Namun, Bayoumi dan teman-temannya kemudian mengeksploitasi tubuh Firdaus.
Menyadari bahwa dirinya kembali ditindas dan martabatnya dirampas, Firdaus akhirnya melarikan diri dari cengkeraman Bayoumi. Dalam pelariannya, ia kemudian bertemu dengan Sharifa, seorang germo kelas atas yang membawanya ke dunia pelacuran dan menjadikannya pekerja seks. Pertemuan inilah yang menjadi titik awal Firdaus terjun ke dalam dunia tersebut.
4. Pekerja Korporat (Eksploitasi Terselubung)
Setelah tinggal bersama Sharifa, seorang germo kelas atas, Firdaus menikmati berbagai fasilitas dan kehidupan yang jauh lebih mewah. Namun, ia kemudian menyadari bahwa dirinya tetap dimanfaatkan karena sebagian besar keuntungan dari pekerjaannya justru mengalir kepada Sharifa. Hal ini membuat Firdaus memutuskan untuk meninggalkan dunia prostitusi dan mencoba bekerja di sebuah kantor sebagai perempuan “terhormat”, dengan bermodalkan ijazah pendidikan menengah yang dimilikinya.
Namun, kehidupan sebagai pekerja kantoran ternyata tidak membuatnya terbebas dari ketidakadilan. Karena pendidikannya yang hanya sampai tingkat menengah, Firdaus hanya bisa mendapatkan pekerjaan sebagai buruh dengan upah rendah. Di tempat kerja pun ia kembali mengalami eksploitasi dan pelecehan seksual dari pejabat serta atasannya.
Merasa kembali berada dalam situasi yang sama, Firdaus akhirnya meninggalkan pekerjaannya dan kembali ke kehidupan sebelumnya. Ia kemudian bertemu dengan Marzouk, seorang germo yang berusaha menguasai dan mengeksploitasi dirinya.
5. Puncak Tragedi (Kemandirian dan Hukuman)
Pertemuannya dengan Marzouk kembali menempatkan Firdaus dalam posisi yang sama: berada di bawah kendali laki-laki yang berusaha menguasai dirinya. Namun, kali ini Firdaus menolak untuk kembali tunduk. Ia memilih menjadi pelacur elite yang bekerja secara mandiri dan menetapkan harga atas tubuhnya sendiri, tanpa bergantung pada germo atau pihak lain.
Ketika Marzouk berusaha memaksanya untuk tunduk, Firdaus melawan dan akhirnya membunuhnya. Atas tindakan tersebut, ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Namun, selama berada di penjara, Firdaus justru merasakan kebebasan yang sebelumnya tidak pernah ia miliki. Tidak ada lagi laki-laki yang dapat menguasai atau menentukan hidupnya. Di titik inilah, meskipun berada di ambang kematian, Firdaus merasa telah menemukan kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri.
Kutipan yang disampaikan pemateri: “Orang yang berani melawan selalu punya dua pilihan: dibungkam atau dihilangkan.” —Tan Malaka.
Kutipan tersebut sejalan dengan tema buku Perempuan di Titik Nol, yaitu tentang perempuan yang berani melawan demi mempertahankan prinsip dan nilai-nilai yang diyakininya, serta menolak ketika dirinya diperdaya dan dieksploitasi oleh pihak lain.
Notula OMOB Fatayat NU Maroko, ditulis oleh: Fatihatun Nawwal, Mahasiswi Universitas Ibn Tofail, Kenitra.
Ikuti kegiatan kami lewat instagram @fatayatnumaroko
Simak berita terbaru kami,

