Rabat, Kamis 9 Juli 2026—Dalam rangka menyemarakkan rangkaian pra-Konferensi Cabang Istimewa (Konfercabis) VIII, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko kembali menyelenggarakan forum intelektual Bahtsul Masail Kubra 2026 yang bertempat di aula Hay Jami’i Dauli, Rabat. Acara tahunan yang diinisiasi oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Maroko ini mengusung tema yang sangat relevan: “Merawat Turas, Menjawab Realitas”.
Forum ilmiah yang berlangsung aktif dan dinamis ini dihadiri oleh 35 delegasi yang mewakili berbagai kota di Maroko dan 3 organisasi undangan dengan perwakilan 3 delegasi dari setiap perwakilan. Sebagaimana tradisi kolaborasi yang terus terjaga pada tahun-tahun sebelumnya, perhelatan kali ini kembali mempererat silaturahmi intelektual lintas organisasi dengan kehadiran hangat dari jajaran delegasi Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Maroko, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko, serta Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Fatayat NU Maroko.
Rangkaian acara diawali dengan sambutan Ketua Panitia Bahtsul Masail Kubra 2026, Kayyis Ahmad, yang menyoroti pentingnya program berkelanjutan Lakpesdam NU Maroko melalui Akademi Bahtsul Masail (ABM) sebagai fondasi utama sebelum terselenggaranya BMK 2026.
“Dalam akademi ini, kita melatih teman-teman yang berpotensi untuk ber-Bahtsul Masail, baik itu secara teoritis maupun praktis. Ini adalah wadah bagaimana kita menghadapi persoalan zaman ini dalam bentuk turas yang menjadi warisan kita, sekaligus menjadi silsilah yang mengantarkan kita menuju forum Bahtsul Masail Kubra ini,” terang Kayyis dalam sambutannya.
Selanjutnya, Ketua Tanfidziyah PCINU Maroko, Moch Cholilur Rahman, Lc., menyampaikan sambutan mengenai pentingnya Bahtsul Masail Kubra sebagai wadah penguatan tradisi intelektual di lingkungan PCINU Maroko. Dilanjutkan dengan pembukaan resmi secara daring melalui Zoom Meeting oleh K.H. Ma’ruf Khozin selaku Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur dan Anggota Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU.
Dalam sambutannya, beliau memaparkan materi penting mengenai kerangka umum bermusyawarah, diantaranya: metode bermadzhab secara qawli (mengikuti pendapat yang sudah jadi) dan manhaji (mengikuti metodologi penetapan hukum para imam mazhab). Di samping itu, K.H. Ma’ruf Khozin turut mengapresiasi PCINU Maroko yang terus konsisten menghidupkan tradisi keilmuan ini, serta menekankan pentingnya pisau analisis hukum yang matang—mulai dari analisis sebab terjadinya kasus hingga analisis dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkan sebelum merumuskan keputusan hukum fikih.
“Melalui organisasi dan khidmah di Nahdlatul Ulama, poin utamanya adalah ilmu. Sebab, derajat yang paling dekat dengan nabi adalah derajat keilmuan, sebagaimana diriwayatkan oleh ulama salaf kita”, ungkap beliau.
Pada diskusi kali ini, mengangkat serta membedah secara tuntas dua isu kontemporer yang sangat dekat dengan realitas kehidupan sosial saat ini: Sikap Fikih Terhadap Fenomena Viralitas KDRT di Media Sosial dan Menakar Keabsahan Manipulasi Kapasitas Sewa Rumah (Ijarah al-Masakir). Kedua isu tersebut dipilih sebagai ikhtiar menghadirkan jawaban fikih yang tetap berpijak pada turas sekaligus responsif terhadap realitas sosial.
Melalui forum diskusi yang diselenggarakan setiap tahunnya oleh Lakpesdam, mengingatkan kita bahwa dalam memutuskan suatu permasalahan, diperlukan peninjauan kembali perspektif para ulama terdahulu. Dengan demikian, khazanah turas tidak hanya dipahami sebagai warisan keilmuan, tetapi juga menjadi landasan dalam merumuskan jawaban atas berbagai persoalan kontemporer yang terus berkembang sesuai dengan dinamika zaman.
Suksesnya gelaran Bahtsul Masail Kubra 2026 ini, PCINU Maroko kembali membuktikan komitmennya dalam memperkaya khazanah intelektual keislaman, sekaligus memberikan solusi konkret atas persoalan umat melalui kacamata tradisi keilmuan pesantren yang luhur.
Hasil resmi Bahtsul Masail Kubra PCINU Maroko 2026 bisa dibaca di sini (link)
Ikuti kegiatan kami lewat instagram @pcinumaroko
Simak berita terbaru kami,

