Dalam Rangka Memperingati Hari Kartini & Harlah Fatayat NU Ke-76, PCI Fatayat NU Maroko, Turki dan Pakistan Gelar Talkshow Keperempuanan Bertajuk “Kartini Muda NU: Berani Berkarya, Berdaya & Berdampak di Era Modern”

Ahad (26/04/2026) pukul 09.30 GMT+1 atau 15.30 WIB, PCI Fatayat NU Maroko menggelar Talkshow Keperempuanan berkolaborasi dengan PCI Fatayat NU Turki dan Pakistan dalam rangka memperingati Hari Kartini dan Harlah Fatayat NU ke-76 bertajuk Kartini Muda NU: Berani Berkarya, Berdaya & berdampak di Era Modern. Kegiatan ini menghadirkan tokoh perempuan inspiratif, Ning Uswah Syauqie. Beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto, aktivis yang aktif dalam meyuarakan isu-isu keadilan dan pemberdayaan perempuan, serta founder fikihperempuan.id dan kreator konten YouTube Rundingan.

Webinar ini berupa diskusi atau ngobrol santai secara daring melalui platform Zoom meeting yang dihadiri oleh para peserta dari berbagai negara yang turut serta meramaikan Hari Kartini dan Harlah Fatayat NU ke-76.

Acara dibuka dan dipandu oleh Sahabat Nada Musharofah (Fatayat NU Pakistan) selaku MC dan Sahabat Anggi Puspa Ningrum (Fatayat NU Turki) sebagai moderator untuk mengatur jalannya diskusi agar berjalan lancar, dan kondusif. Berikutnya, acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Perwakilan Fatayat NU Pusat, Ibu Hj. Wilda Tsururoh, S.Pd., M.Pd. Di sambutannya, beliau berterima kasih kepada PCI Fatayat NU Maroko, Turki dan Pakistan yang sudah berkolaborasi dan mengundang beliau, sehingga dapat bersilaturahmi dengan para peserta dari berbagai negara secara online melalui acara ini.

Ibu Wilda menyampaikan “Harlah ke-76 bukan usia yang muda lagi, melalui tema yang kita angkat bukan hanya dijadikan sebagai slogan semata, namun punya spirit yang bisa kita ambil oleh seluruh kadernya. Kita berharap di 76 tahun ini, kader Fatayat mampu berdaya dan bersaing di segala aspek kemaslahatan, kebermanfaatan juga kontribusi nyata bagi lingkungan sekitarnya. Semangat Kartini menjadi cermin bagi kita sebagai perempuan untuk bangkit, bersinar, berdampak dan mewarnai peradaban dunia.” Tak lupa, beliau mengucapkan Selamat Hari Kartini juga Harlah Fatayat NU ke-76 untuk semua Fatayat NU yang tersebar di negara manapun.

Sambutan kedua diisi oleh Perwakilan PCI Fatayat NU, Sahabat Neng Yova Sriwulan, yang juga menyampaikan Harlah Fatayat mengingatkan kita pada pejuangan pendahulu kita di Nahdlatul Ulama dalam mewadahi perempuan muda untuk berdaya, berilmu dan berakhlakul karimah. Di sisi lain, Hari Kartini mengingatkan kita bahwa emansipasi adalah gerbang bagi perempuan untuk ikut andil dalam pembangunan peradaban.

“Jika dulu, Ibu Kartini berjuang melalui surat-suratnya agar perempuan bisa sekolah, maka sekarang kita di Fatayat berjuang untuk memastikan perempuan untuk mandiri secara ekonomi, cerdas secara literasi, dan menjadi benteng utama dalam mendidik generasi bangsa”, ujar Sahabat Yova di penghujung sambutannya.

Berlanjut ke acara inti, yaitu penyampaian materi oleh Ning Uswah Syauqie. Di awal sambutannya, beliau menyatakan rasa syukur dan terima kasih karena diberi kesempatan menjadi pemateri dalam Talkshow Keperempuanan Hari Kartini & Harlah Fatayat NU Ke-76.

Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan kenapa kita harus memperingati Hari Kartini? Karena Hari Kartini adalah momentum membangun kesadaran perempuan untuk berilmu, berdaya dan memberi manfaat. Perempuan itu harus berilmu terlebih dahulu sebelum berkarya dan berdampak. Privillage itu bisa diciptakan dari diri kita sendiri, dimulai dari menjadi orang yang berilmu dan bervalue. Setelah berilmu, kita bisa berdaya kemudian dapat memberi manfaat kepada orang lain.

Lalu, kenapa Ibu Kartini menjadi disebut pahlawan? Karena beliau suka menulis, cinta literasi, dan berperan besar dalam hak-hak perempuan. Sebagaimana ada pepatah yang mengatakan “Kalau kamu bukan seorang anak ulama besar, maka menulislah”, Ibu Kartini adalah keturunan tokoh besar, tetapi beliau tetap menulis untuk membuktikan bahwa perempuan bisa berdaya, berpendidikan dan berdampak pada dunia.

Dalam Islam, perempuan memiliki kedudukan mulia dan peran strategis dalam peradaban. Sebagaimana dalam firman Allah Swt.

وَلَهُنَّ مِثلُ الَّذِي عَلَيهِنَّ بِالمَعرُوفِ

“Dan para perempuan mempunyai hak yang seimbangdengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.”
(QS. Al-Baqarah: 228)

Selanjutnya, beliau menambahkan bagaimana menjadi perempuan yang berdaya? Satu-satunya yang membuat Kartini NU masa kini bisa kompak dan berdaya adalah rasa memiliki (sense of belonging), teori Hierarchy of Needs dari Abraham Maslow menjelaskan bahwa kebutuhan akan cinta dan rasa memiliki adalah kebutuhan dasar manusia. Dalam Let Them Theory Mel Robbins “orang yang mencintaimu akan selalu berpikiran negatif kepadamu.”

Di akhir penjelasan, beliau menyampaikan nasihat kepada generasi perempuan saat ini, “Perempuan hebat bukanlah yang paling zuhur (terlihat), terkenal, selalu fyp, atau banyak mendapat apresiasi, melainkan yang paling berdampak meski khumul (tidak terlihat).”

Sesi terakhir adalah sesi tanya jawab dan berdiskusi dengan para audiens yang hadir. Di sini, beberapa audiens bertanya dan menyampaikan keluh kesahnya selagi berproses dalam menuntut ilmu. Sesi diskusi terasa hangat, Ning Uswah menanggapi audiens dengan nasihat yang mengena dan membangun.

Oleh: LTNNU Maroko

Ikuti kegiatan kami lewat instagram @fatayatnumaroko

Tonton siaran ulang lengkapnya di Kartini Muda NU: Berani, Berkarya dan Berdampak di Era Modern

Simak artikel terbaru kami,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *