Imam Ghazali dari Kediri?

Catatan tentang Syekh Ihsan Jampes

Oleh: Mochammad Wafda Zaidani al-Falaqy

Tidak semua ulama memilih panggung, sebagian justru menempuh jalan sunyi: mengajar, menulis, dan mendoakan umat tanpa hiruk-pikuk pengakuan. Syekh Ihsan Jampes adalah contoh nyata ulama seperti ini. Namanya mungkin jarang disebut di ruang publik, tetapi jejak ilmunya melintasi batas tempat dan zaman.

Dari Kediri ke Bangkalan: Rihlah Ilmu dalam Pembentukan Diri

Syekh Ihsan bernama lengkap Ihsan bin Dahlan. Beliau lahir pada tahun 1901 M dan tumbuh di lingkungan Pesantren Jampes, Kediri. Sejak kecil, hidupnya lekat dengan kitab dan laku ngaji yang tekun. Dasar-dasar agama ia peroleh dari orang tuanya, sementara pembentukan intelektual dan spiritualnya pada masa kanak-kanak hingga remaja banyak ditempa oleh asuhan neneknya, Nyai Istianah—perempuan terdidik keturunan Pesantren Tegalsari. Dari beliaulah, Ihsan kecil belajar membaca kitab dan menumbuhkan kecintaan mendalam pada ilmu.

Setelahnya, Syekh Ihsan mengembara dari satu pesantren ke pesantren lain. Dimulai dari menyantri kepada pamannya sendiri, Kyai Khozin, di Pesantren Bendo Pare, Kediri. Kemudian kepada Kyai Ahmad Dahlan dan Kyai Sholeh Darat di Semarang, hingga berguru kepada sang maha guru, Syaikhona Kholil Bangkalan.

Ilmu yang Membentuk Hati

Dalam setiap pengembaraan ilmiahnya, Syekh Ihsan dikenal sangat menjaga sikap tawaduk. Ia selalu menyembunyikan identitasnya sebagai putra seorang kiai. Setiap kali asal-usulnya diketahui, ia memilih undur diri dan berpindah ke pesantren lain. Bahkan, di salah satu pesantren, ia dengan sukarela menjadi abdi dalem. Sikap ini bukan sekadar laku sosial, melainkan latihan kerendahan hati dan upaya memurnikan niat dalam menuntut ilmu.

Kecintaan Syekh Ihsan terhadap ilmu nyaris tanpa jeda. Hari-harinya diisi dengan membaca kitab-kitab turas, majalah, surat kabar, serta menulis tanpa henti. Karyanya tidak hanya berbahasa Indonesia, tetapi banyak ditulis dalam bahasa Arab fusha dengan kualitas sastra yang tinggi. Penguasaannya atas literatur klasik begitu mendalam hingga ia mampu melahirkan karya-karya monumental dalam berbagai cabang ilmu. K.H. Hasyim Asy’ari bahkan menyebutnya sebagai al-‘Allāmah sekaligus sastrawan.

Sirāj al-Tālibīn: Ketika Kitab Menjadi Jalan

Syekh Ihsan bukan tipe ulama yang mudah puas. Setiap kalimat ditimbang, setiap makna direnungi. Dari proses panjang yang sunyi inilah lahir Sirāj al-Tālibīn, karya yang kelak tidak hanya dibaca di Nusantara, tetapi juga di berbagai negeri Timur Tengah.

Sirāj al-Tālibīn adalah syarah atas Minhāj al-Ābidīn karya Imam al-Ghazali. Syekh Ihsan tidak sekadar menjelaskan teks, tetapi menghidupkannya dengan bahasa yang membimbing, bukan menggurui.

Bagi Syekh Ihsan, ilmu bukan soal banyak tahu atau banyak bicara. Ilmu harus melahirkan rasa takut kepada Allah dan kejujuran terhadap diri sendiri. Beliau berulang kali menegaskan:

“Ilmu yang tidak melahirkan amal justru menjadi hujjah yang memberatkan pemiliknya.”

Lebih jauh, Syekh Ihsan sangat peka terhadap penyakit hati yang kerap tersembunyi di balik ibadah. Tidak semua yang tampak saleh, menurutnya, benar-benar selamat. Bahkan rasa bangga (ujub) terhadap ibadah bisa menjadi racun yang paling halus dan jauh mematikan.

Inilah ciri ulama suluk sejati: perhatian utamanya tertuju ke dalam, bukan pada penilaian manusia.

Fikih dan Tasawuf: Kesatuan Jalan

Dalam banyak penjelasannya, Syekh Ihsan menegaskan bahwa fikih dan tasawuf tidak semestinya dipertentangkan. Fikih menjaga batas lahiriah, tasawuf membersihkan niat batiniah. Mengabaikan salah satunya hanya akan melahirkan ketimpangan. Syekh Ihsan berdiri di atas kaidah lama yang masyhur di kalangan ulama:

من تفقه ولم يتصوف فقد تفسق ومن تصوف ولم يتفقه فقد تزندق ومن جمع بينهما فقد تحقق

“Barang siapa yang mendalami fikih tanpa tasawuf ia akan terjerumus pada sikap menyimpang, dan barang siapa yang menempuh tasawuf tanpa fikih ia akan tersesat. Dan siapa yang memadukan keduanya, dialah yang menempuh jalan kebenaran.”

Barangkali inilah sebab karya Syekh Ihsan diterima luas. Sirāj al-Tālibīn tidak lahir dari semangat debat, melainkan dari keinginan membimbing. Dicetak di Mesir dan dipelajari di berbagai negeri, kitab ini menjadi saksi bahwa pesantren kecil di Kediri mampu berbicara dalam bahasa keilmuan dunia.

Imam Ghazali dari Kediri?

Julukan ini bukan lahir dari kekaguman kosong, tetapi bersandar pada fakta intelektual yang dapat ditelusuri. Sirāj al-Tālibīn bukan sekadar syarah biasa atas Minhāj al-Ābidīn, ia adalah karya yang menunjukkan penguasaan mendalam terhadap proyek besar tasawuf Ghazalian: memadukan syariat, akhlak, dan penyucian jiwa dalam satu bangunan keilmuan yang utuh.

Dalam syarah ini, Syekh Ihsan tidak sekadar menjelaskan lafaz, tetapi memperluas analisis penyakit hati, riya, ujub, serta hubungan antara amal lahir dan kondisi batin, tema-tema sentral yang menjadi pemikiran Imam al-Ghazali. Karena itu, penyebutan Syekh Ihsan sebagai “Imam Ghazali dari Kediri” dapat dipahami sebagai pengakuan akan perannya dalam melanjutkan dan menguatkan tradisi tasawuf akhlaki al-Ghazali di pesantren Nusantara, yang pengaruh nilainya menjalar ke masyarakat luas.

Julukan ini tentu bukan untuk menyamakan kedudukan. Namun ada keselarasan ruh yang sulit diabaikan: keduanya sama-sama menegaskan bahwa tujuan akhir ilmu dan ibadah bukanlah banyaknya amalan, melainkan keselamatan hati.

Di zaman yang ramai oleh klaim kebenaran dan pencitraan kesalehan, ajaran Syekh Ihsan terasa menenangkan. Ia mengajarkan bahwa ilmu tidak perlu berisik untuk menjadi bermakna. Cukup jujur, istiqamah, dan diam-diam memberi cahaya.

Dan mungkin, justru karena sikap itu, nama Syekh Ihsan Jampes terus hidup dalam kitab-kitab yang dibaca, di pesantren-pesantren yang menyalin ilmunya, serta dalam doa orang-orang yang merasa tertuntun olehnya.

Daftar bacaan:

Sirāj al-Tālibīn ‘ala Minhāj al-Ābidin, Ihsan Muhammad Dahlan al Jampesi

Minhāj al-Ābidin ilā Jannati Rabb Al-‘ālamīn, Imam al-Ghazali

Kontribusi Syaikh Ihsan Jampes dalam Perkembangan Diskursus Kajian Hadis di Nusantara, Journal Tebuireng

Ikuti kegiatan kami lewat @pcinumaroko

Baca juga artikel kami,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *