Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya

One Month One Book Fatayat NU Maroko: Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya

Kegiatan One Month One Book Fatayat NU Maroko edisi Januari ditemani oleh sahabat Silvia Az Zahra, mahasiswi Universitas Mohammed Premier Oujda. Seorang Wanita yang Ingin Menjadi Pohon Semangka di Kehidupan Berikutnya yang merupakan judul dari buku pilihannya ini mengangkat kisah reflektif tentang kehidupan, kesehatan mental, dan penerimaan diri melalui tokoh utama bernama Lalin.

Sebuah buku yang ditulis oleh seorang psikiater sekaligus penulis, dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ., menceritakan tentang penerimaan diri, kesabaran dalam menjalani sebuah proses, memandang kehidupan dari berbagai sudut pandang yang berbeda sehingga tidak menjadi beban dalam kehidupan, kekecewaan, penyesalan, dan ketidaksempurnaan hidup yang dialami Latin—seorang perempuan berusia 24 tahun.

Cerita disampaikan dengan bahasa yang sederhana, dan menyentuh sehingga pembaca mampu memahami pergulatan batin tokoh secara perlahan dan mendalam. Buku psikologi yang dikemas menjadi sebuah cerita obrolan pasien dengan dokternya. Kisah-kisah hidup Lalin yang kemudian ditanggapi oleh sang dokter.

Dari semua hal di kehidupan ini, pertanyaan paling sering didiskusikan adalah “Apa itu kebahagiaan?” dan “Apa kamu menyesal dilahirkan?”. Dari situlah buku ini lahir dan terbentuk untuk menjawab makna hidup yang tidak terlalu lama. Mulai dengan membayangkan sebuah surat ajaib dari masa depan yang dituliskan oleh diri kita sendiri.

Seperti dalam memaknai kebahagiaan. Kalau selama ini kita merasa hidup harus selalu bahagia, kita akan mendapat perspektif bahwa tidak sedang bahagia pun tidak apa-apa. Kalau selama ini kita tertekan karena merasa harus mengikuti cara orang lain untuk bahagia, maka kita akan mendapat pemahaman bahwa cara orang untuk bahagia itu bisa berbeda-beda. Kalaupun ada ‘rumus bahagia’, bisa disederhanakan dengan menghadirkan rasa takjub dan menikmati jalannya waktu.

Lalin berasal dari keluarga kaya raya dengan ekspektasi tinggi. Di balik kehidupan yang tampak sempurna, ia hidup dengan penyakit autoimun dan tekanan mental yang berat. Demi menjaga harapan keluarganya, Lalin membiasakan diri untuk tidak mengeluh dan tidak menjadi beban—termasuk menyembunyikan statusnya sebagai pasien kesehatan mental.

Dalam sesi konsultasi bersama psikiaternya, Lalin mulai mengungkap berbagai pertanyaan hidup dan kematian. Dari proses ini, Lalin perlahan memahami bahwa rasa lelah dan keinginannya untuk menyerah bukanlah tanda kegagalan, melainkan tanda bahwa ia telah berjuang terlalu lama sendirian.

Melalui terapi, cara pandang Lalin berubah dari “tidak apa-apa jika harus mati” menjadi “aku akan menggunakan waktu yang tersisa dengan sebaik mungkin”. Perubahan ini menandai proses penerimaan diri dan keinginan untuk menjalani hidup dengan lebih sadar dan bermakna.

Lalu, mengapa ia memilih pohon semangka?

Keinginan Lalin untuk menjadi pohon semangka melambangkan harapan hidup yang tenang dan jujur: tumbuh tanpa tuntutan, memberi tanpa tekanan, dan diterima apa adanya. Simbol ini menjadi inti pesan buku tentang pentingnya berdamai dengan diri sendiri, menerima luka serta segala penyesalan untuk menerbitkan harapan baru yang lebih sederhana, sesederhana menjadi pohon semangka.

Buku ini memberikan pelukan hangat bagi pembaca yang sedang lelah, sekaligus mengingatkan bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari proses hidup. Kisah Lalin mengajarkan tentang keberanian untuk bertahan dan bangkit. Sekecil apapun itu bisa menjadi kekuatan yang besar untuk diri kita sendiri.


Notula OMOB Fatayat NU Maroko, ditulis oleh: Lujiya Hikma Aisyah, Mahasiswi Universitas Mohammed V, Rabat.

Ikuti kegiatan kami lewat instagram @fatayatnumaroko

Simak artikel terbaru kami,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *