Menjalani Ramadan di Tengah Kesibukan dan Siklus Perempuan: Antara Target Ibadah dan Realita Tubuh

PCI Fatayat NU Maroko kembali menghadirkan diskusi seputar keperempuanan dalam edisi menjelang bulan Ramadan. Diskusi kali ini, ditemani oleh Sahabat Attika Rakhma sebagai moderator dan Sahabat Nidaan Khofiya selaku pemateri yang akan mengupas tuntas tema Menjalani Ramadan di Tengah Kesibukan dan Siklus Perempuan: Antara Target Ibadah dan Realita Tubuh.

Sahabat Attika Rakhma membuka diskusi guna menyampaikan tujuan bagaimana perempuan dapat menyesuaikan ibadah Ramadan dengan kondisi tubuh dan kegiatan sehari-hari, termasuk saat menghadapi ujian dan tugas akademik.

Sahabat Nidaan memulai pemaparan dengan menjelaskan bahwa Ramadan sering kali dibayangkan sebagai bulan ideal, di mana semua amalan bisa terselesaikan sempurna, seperti khatam Al-Qur’an atau menyelesaikan semua amalan sunah. Namun, realitasnya tidak selalu sesuai harapan, terutama bagi perempuan. Tubuh memberi sinyal ketika lelah, baik faktor menstruasi atau hal lain, dan ini bukan tanda malas beribadah, melainkan respons biologis yang harus diperhatikan.

Selanjutnya, materi dibahas lebih mendalam terkait fase biologis tubuh perempuan yang memengaruhi ritme ibadah, yaitu: luteal, menstruasi, folikuler, dan ovulasi. Setiap fase membutuhkan pendekatan yang berbeda, termasuk dalam menargetkan ibadah Ramadan:

  1. Fase Luteal: tubuh lebih mudah lelah, emosi sensitif, dan fokus menurun. Memaksa diri untuk beribadah secara fisik pada fase ini bisa menimbulkan kelelahan dan frustasi. Sahabat Nidaan menekankan pada fase ini bukan tanda iman menurun, melainkan sinyal tubuh untuk memperlambat ritme dan lebih merawat diri.
  2. Fase Menstruasi: kadar hormon estrogen dan progesteron turun drastis, menyebabkan energi menurun, sistem saraf sensitif, dan emosi cenderung rapuh. Dalam Ramadan, menunaikan hak tubuh melalui istirahat cukup, makan bergizi, dan tidak memaksakan standar ibadah fisik seperti berpuasa justru merupakan bentuk ketaatan. Target ibadah dapat dialihkan dari fisik ke ibadah hati, seperti zikir, doa, dan sedekah. Pemateri menegaskan bahwa menerima ritme  tubuh dengan sadar adalah ibadah yang bernilai tinggi.
  3. Fase Folikuler: setelah menstruasi berakhir, energi perlahan kembali, fokus membaik, dan semangat naik. Fase ini cocok untuk menyusun target ibadah, mengerjakan hal-hal yang membutuhkan konsentrasi, dan membangun kembali ritme ibadah.
  4. Fase Ovulasi: tubuh terasa lebih kuat, percaya diri meningkat, dan lebih aktif bersosialisasi. Aktivitas yang melibatkan interaksi atau kegiatan sosial terasa lebih ringan, menjadikan fase ini salah satu periode paling produktif untuk ibadah dan aktivitas fisik.

Sahabat Nidaan menambahkan bahwa mengenali siklus tubuh dengan mengetahui perkiraan menstruasi dan durasinya, perempuan dapat menargetkan ibadah Ramadan secara lebih realistis. Strategi ini bukan menurunkan standar, tetapi menyesuaikan ibadah dengan ritme tubuh—memaksimalkan ibadah fisik di hari-hari suci dan menyiapkan ibadah batin saat menstruasi, sehingga tidak merasa tertinggal dan tetap utuh menuju tujuan Ramadan. Ketaatan diukur bukan dari intensitas semata, tapi juga kebijaksanaan membaca batas tubuh.

Diskusi dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, di antaranya pertanyaan mengenai teori neuroscience yang menyebutkan bahwa ”jika kita menginginkan kualitas, kita harus melewati kuantitas terlebih dahulu”, Sahabat Nidaan menjelaskan hal ini relevan dengan persiapan ibadah sejak Rajab dan Syakban yang dapat memengaruhi kualitas ibadah di bulan Ramadan.

Dilanjutkan pertanyaan mengenai intermittent fasting bagi Perempuan. Sahabat Nidaan menekankan bahwa IF sebaiknya menyesuaikan fase siklus biologis karena hormon dan energi berbeda tiap fase, sehingga puasa dapat dilakukan lebih aman dan nyaman tanpa memaksakan tubuh.

Pertanyaan terakhir, datang dari seorang mahasiswi yang ingin mencapai target ibadah Ramadan sambil menghadapi ujian dan tugas kampus. Sahabat Nidaan memberikan tips praktis: di sela ujian, ibadah tidak harus berat dan panjang; cukup fokus pada ibadah hati, menjaga niat, sabar, jujur dalam belajar, membaca satu ayat beserta tafsirnya, memperbanyak zikir ringan, dan meniatkan setiap aktivitas sebagai bentuk ibadah.

Sahabat Nidaan menutup diskusi dengan closing statement yang menenangkan dan membekas: “Ramadan bukan lomba. Bukan tentang siapa yang paling banyak, paling kuat, atau paling terlihat, Ramadan adalah tentang keberanian untuk jujur pada kondisi kita, dan tetap memilih dekat dengan Allah dalam bentuk yang kita mampu. Tubuh perempuan bersiklus, dan itu bukan kelemahan. Itu adalah desain. Tugas kita bukan melawan desain itu, tapi menyelaraskan ibadah dengan realita hidup dan ritme tubuh kita.”

Sahabat Attika Rakhma selaku moderator menutup sesi dengan ucapan terima kasih kepada pemateri dan peserta, tak lupa mengingatkan bahwa setiap usaha menyesuaikan ibadah dengan kondisi tubuh adalah bagian dari ibadah yang mulia, dan mengajak peserta untuk menerapkan tips yang telah disampaikan dalam Ramadan tahun ini.

Notula diskusi Fatayat NU Maroko ditulis oleh: Nilna Zahwa Zaharah, Mahasiswi Ma’had Al-Faqih Ar-Rouhuni, Kenitra.

Ikuti kegiatan kami lewat instagram @fatayatnumaroko

Simak berita terbaru kami,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *