Dompet Ayah Sepatu Ibu

One Month One Book Fatayat NU Maroko: Dompet Ayah Sepatu Ibu

Agenda One Month One Book kembali hadir di bulan Desember dengan ditemani  Sahabat Attika Rakhma dengan novel pilihannya yang berjudul Dompet Ayah Sepatu Ibu karya Santani Khairen, seorang novelis muda asal Jombang yang dikenal dengan nama pena J.S. Khairen. Novel yang memiliki tebal 200 halaman ini diangkat dari kisah nyata pengalaman orang tua penulis dan berlatar belakang budaya Sumatera Barat.

Dalam pemaparannya, pemateri menjelaskan bahwa novel ini mengangkat tema keluarga, perjuangan hidup, serta upaya memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan, kerja keras, dan keteguhan hati. Cerita di dalamnya berfokus pada dua tokoh utama, Zenna dan Asrul, yang memiliki kesamaan dalam nasib dan tujuan hidup.

Kisah buku ini diawali dengan menceritakan Zenna yang merupakan anak tengah dari sebelas bersaudara, tinggal bersama keluarganya di lereng Gunung Singgalang. Sejak usia muda, Zenna memikul tanggung jawab besar dalam keluarganya. Saat Abaknya (red: ayah) jatuh sakit, Zenna terpaksa mengambil peran tulang punggung keluarga. Ia harus membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus berjuang agar adik-adiknya tetap dapat melanjutkan pendidikan meskipun ia sendiri masih menempuh pendidikan. Hal ini menggambarkan keteguhan dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap keluarganya.

Selanjutnya, Asrul diceritakan sebagai anak sulung dari tiga bersaudara yang tumbuh dalam kondisi keluarga tidak utuh. Setelah ayahnya menikah lagi dan hidup bersama istri barunya, Asrul harus membantu ibunya yang tinggal terpisah dan semakin menua. Dalam pembahasan ini, pemateri menyoroti simbol kayu manis yang selalu disimpan ayah Asrul di dalam dompetnya. Simbol tersebut menjadi pemantik kesadaran Asrul mengenai kerasnya perjuangan hidup keluarganya dan membentuk cara pandangnya terhadap masa depan.

Salah satu kutipan kalimat dalam novel, “Ibumu punya retak, ayahmu punya retak, memaafkan mereka adalah obat segala obat,” menekankan pesan penting tentang memaafkan orang tua dan menerima keterbatasan mereka sebagai manusia. Dari pengalaman hidup tersebut, Asrul memiliki tekad kuat untuk mengubah nasib dengan bekerja keras dan bercita-cita membangun rumah yang layak bagi Umi, ibunya.

Takdir mempertemukan Zenna dan Asrul di kampus yang sama. Kesamaan latar belakang, pengalaman hidup, serta tujuan yang sama membuat keduanya saling memahami hingga akhirnya menikah. Hubungan keduanya bermula melalui perantara sebuah koran dan berkembang menjadi komitmen bersama untuk saling menguatkan dan berjuang memutus rantai kemiskinan yang selama ini membelenggu keluarga mereka.

Setelah menikah, Zenna dan Asrul tidak serta-merta menjalani kehidupan yang mudah. Pemateri menyampaikan bahwa keduanya justru menghadapi berbagai ujian hidup yang bertubi-tubi. Berbagai kesulitan tersebut menguji keteguhan, serta kemampuan mereka untuk bekerja sama sebagai pasangan. Maka salah satu ucapan sakral Zenna, “kita pernah melewati yang lebih buruk dari ini.” disampaikan sebagai kalimat penguat yang menjadi pegangan bagi keduanya untuk terus bertahan dan melangkah maju.

Pada bagian akhir pembahasan, pemateri menegaskan bahwa novel Dompet Ayah Sepatu Ibu menggambarkan bahwa perjuangan yang dijalani dengan kesabaran dan ketekunan pada akhirnya akan membuahkan hasil. Melalui kisah Zenna dan Asrul, novel ini menyampaikan pesan bahwa doa dan pengorbanan orang tua memiliki peran besar dalam kehidupan anak.

Secara keseluruhan, novel ini mampu membawa pembaca melewati dinamika kehidupan yang penuh lika-liku dan membangun sebuah kisah yang inspiratif. Bagaimana privilese digambarkan, yang mungkin awalnya tidak ada, dapat diwujudkan melalui perjalanan hidup yang penuh perjuangan. Kisah ini memberi pesan mendalam kepada pembaca bahwa keluar dari lingkaran kemiskinan struktural bukanlah hal yang mustahil, melainkan suatu perjalanan yang membutuhkan langkah nyata dan keberanian untuk mengubah nasib.

Notula OMOB Fatayat NU Maroko, ditulis oleh: Fiya Nahdliyatus S., Mahasiswi Institut Kadi Faqih Abdullah bin Said Al Oujdi, Oujda.  

Ikuti kegiatan kami lewat instagram @fatayatnumaroko

Simak berita terbaru kami,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *