Atomic Habits

One Month One Book Fatayat NU Maroko: Atomic Habits

Berawal dari cedera serius yang dialami penulis Atomic Habits, James Clear, saat bermain bisbol—sebuah tragedi yang menjadi titik balik dalam hidupnya. Saat itu ia menyadari, “Supaya segalanya membaik, sayalah satu-satunya yang bertanggung jawab mewujudkannya.” Dari kesadaran itulah ia bangkit dan mulai memperbaiki hidup melalui perubahan kecil namun konsisten, seperti tidur lebih awal, rutin berlatih fisik, dan menjaga pola kebiasaan harian. Kebiasaan sederhana tersebut akhirnya membawanya meraih penghargaan Best Athlete di tingkat universitas hingga nasional Amerika.

Pengalaman-pengalaman yang berkaitan dengan kebiasaannya kemudian ia simpan dalam bentuk catatan, dan catatan inilah yang akhirnya menarik perhatian penerbit hingga diterbitkan menjadi sebuah buku.

Ya, buku Atomic Habits karya James Clear yang kali ini dibedah oleh Sahabat Navhat Nuraniyah pada acara OMOB Oktober 2025.

Diantara inti pemikiran penulis dalam bukunya adalah:

  1. Perubahan-perubahan yang terkesan kecil dan remeh pada awalnya akan memberikan hasil yang menakjubkan bila anda bersedia menjalaninya sampai bertahun-tahun.
  2. Kualitas hidup kita seringkali bergantung pada kualitas kebiasaan kita.

Buku ini menawarkan strategi yang relevan bagi siapapun yang ingin memperbaiki hidup secara bertahap dan sistematis, baik dalam bidang kesehatan, keuangan, produktivitas, hubungan, karier, ataupun tujuan pribadi lainnya. James Clear mengibaratkan tujuan seperti destinasi pesawat: tanpa arah yang jelas, pesawat dapat mudah tersesat dan ‘mampir ke banyak tempat’ dan gagal mencapai tujuannya.

Mengapa perubahan kecil menghasilkan perbedaan besar?

Disinilah dahsyatnya kekuatan Atomic Habits terlihat. Atomic Habits adalah kebiasaan kecil yang merupakan bagian dari sistem yang lebih besar. Sama halnya seperti atom—unit terkecil dari suatu unsur yang ikut berperan dalam membangun molekul.

Cara paling efektif untuk membentuk kebiasaan baru bukan hanya dengan menargetkan apa yang ingin kita capai, tetapi dengan menentukan siapa diri yang ingin kita wujudkan.

Alih-alih berkata, “Saya ingin menjadi tipe orang seperti ini,” ubahlah menjadi, “Saya adalah tipe orang seperti ini.”

Terdapat 4 kaidah yang tercantum dalam buku Atomic Habits yang dapat membantu kita memperbaiki kebiasaan:

1. Menjadikannya terlihat.

Strategi paling sederhana untuk membangun kebiasaan baru adalah menggunakan formula niat pelaksanaan. “Aku akan (kata kerja) pada (waktu) di (lokasi).” Format ini membuat kebiasaan lebih jelas, spesifik, dan mudah dieksekusi.

2. Menjadikannya menarik.

Salah satu cara yang efektif untuk membuat kebiasaan terasa menarik adalah dengan menggabungkannya dengan aktivitas yang kita sukai, seperti joging sambil mendengarkan lagu atau podcast favorit.

3. Menjadikannya mudah.

Berjalanlah perlahan, namun pantang mundur. Fokuslah pada pengulangan, bukan kesempurnaan. Manusia secara alami memilih tindakan yang memerlukan usaha paling sedikit. Maka, buatlah kebiasaan baik menjadi mudah dilakukan, dan kebiasaan buruk menjadi sulit dilakukan.

4. Menjadikannya memuaskan.

Salah satu perasaan paling memuaskan dalam hidup adalah perasaan mengalami kemajuan. Ketika kita melihat diri kita lebih baik sedikit demi sedikit, motivasi pun meningkat.

Untuk mendukung hal ini, kita dapat menggunakan habit tracker yang mampu menggabungkan tiga kaidah sekaligus: kebiasaan terlihat, menarik, dan memuaskan. Dengan melihat jejak keberhasilan (centang harian) pada habit tracker, kita terdorong untuk menjaga konsistensi dan mempertahankan rantai tersebut.

Pada intinya, rahasia untuk mendapatkan hasil yang terus meningkat adalah tidak pernah berhenti melakukan perbaikan. Hasil yang menakjubkan dapat kita dapatkan jika kita memilih untuk terus melangkah, sekecil apa pun langkah itu.

Tapi, sebanyak apa pun buku self-improvement yang kalian baca, perubahan tidak akan datang bila tidak dimulai dari diri sendiri. Jadi, kalau bukan sekarang, kapan lagi? Now or never!

Notula OMOB Fatayat NU Maroko, ditulis oleh: Arrinda Zahwa Nur Fauziah Arristin, Mahasiswi Universitas Moulay Ismail, Meknes.

Ikuti kegiatan kami lewat instagram @fatayatnumaroko

Simak berita terbaru kami,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *