Mendang-Mending Menjelang Pilpres

Rubrik: Informasi Politik

Pemilihan presiden tinggal menghitung hari. Obrolan-obrolan seputar pemilu sudah sewajarnya semakin sering terdengar. Warung-warung kopi yang saya datangi dipenuhi opini-opini. Sebagai orang awam, saya punya pendapat bahwa politik memang boleh jadi bahan diskusi semua kalangan. Sebab politik adalah kepentingan dan semua orang, tanpa perlu jadi ahli, pasti punya kepentingan. Meskipun mendengar pendapat para ahli jelas lebih baik.

Di sisi lain, kita jelas tahu bahwa setiap manusia punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Tidak terkecuali pasangan-pasangan calon yang balihonya bertebaran itu. Dosa-dosa yang sudah lalu jadi topik paling panas di setiap tongkrongan. Luka-luka lama jadi bahan paling segar untuk digoreng setiap buzzer lawan. Tidak bisa dipungkiri, kekurangan-kekurangan tersebut juga jadi alasan masyarakat untuk tidak memilih mereka.

Mari kita coba mulai dari Bapak Anis Baswedan. Banyak masyarakat melihat adanya dugaan politik identitas selama kampanye beliau di pemilihan gubernur DKI Jakarta beberapa tahun lalu. Penggusuran Kampung Bayam untuk membangun Jakarta International Stadium (JIS) juga jadi derita yang masih diperbincangkan. Terhitung hingga Maret 2023, sejumlah warga kampung mengaku belum juga mendapatkan kunci hunian rumah susun pengganti. Calon Presiden nomor urut 1 (satu) ini juga dianggap melanggar janji kampanyenya karena meneruskan Reklamasi Pulau G.

Selanjutnya, calon presiden kita di nomor urut 2 (dua). Tidak kalah kontroversial dibanding calon pertama, Bapak Prabowo Subianto diduga terlibat dalam penculikan para aktivis pada tahun 1998. 22 aktivis diculik dan hanya 9 orang saja yang dapat kembali pulang. Tidak ada kabar dari 13 orang lainnya hingga saat ini.

 Selain itu, pada Juli 2020, Presiden Jokowi menunjuk beliau sebagai koordinator dalam rencana pembangunan dan pengembangan kawasan food estate. Namun sayangnya, program yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan nasional ini dianggap gagal. Laporan berjudul: “Food Estate: Menanam Kehancuran Menuai Krisis Iklim” yang dirilis oleh Greenpeace menyatakan bahwa salah satu Proyek Strategis Nasional ini malah mengeksploitasi banyak hutan dan lahan gambut sehingga mengancam wilayah adat dan keanekaragaman hayati penting di Indonesia.

Masalah Mahkaman Konstitusi (MK) tentu tak kalah menarik. Kontroversi paling baru dibidani oleh pengabulan gugatan batas usia calon presiden dan wakil presiden. Hal ini membuat anak sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, berhasil maju sebagai cawapres. Meski berefek juga pada pemberhentian Anwar Usman, paman Gibran sendiri, dari jabatan ketua MK.

Terakhir, Ganjar Pranowo sebagai Calon Presiden nomor urut 3 (tiga). Komentarnya soal Piala Dunia U-20 di Indonesia berhasil menggagalkan pelaksanaan ajang olahraga tersebut. Hal ini tentunya memantik perdebatan panas di media maya. Sengketa lahan sebab pembangunan batu andesit di Desa Wadas, Jawa Tengah juga merupakan soal yang penting. Belum lagi, kontroversi terkait pembangunan pabrik semen kendeng.

Semua yang saya sebutkan di atas hanyalah segelintir dari kontroversi-kontroversi setiap calon. Pembahasan dosa-dosa ini seakan tak punya ujung. Simpatisan masing-masing calon selalu punya alasan, sebagaimana lawannya juga senantiasa menyimpan ‘dendam’. Adu argumen soal dosa siapa yang paling bisa diampuni tak mungkin ada jawaban pastinya. Perdebatan ‘mendang-mending’ sudah seperti makanan pokok sehari-hari. Hal ini mengingatkan saya pada pepatah “gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang pantai nampak jelas.”

Tapi, sekali lagi, kita perlu mengingat bahwa semua orang punya kekurangan dan kelebihan masing-masing. Sebagai calon pemilih, mungkin yang bisa kita usahakan adalah menjadi warga negara yang bijak. Mencoba mempelajari masing-masing calon secara utuh sebelum di Hari H nanti kita memutuskan.

Akhir kata, saya mensyukuri adanya pendukung dari kalangan ulama pada setiap calon. Setidaknya, dengan ini saya meyakini bahwa Indonesia akan baik-baik saja siapapun presiden yang terpilih nanti. Golput bukan pilihan, mari gunakan hak kita untuk memperjuangkan apa yang menurut kita baik untuk bagi tercinta, Indonesia. 

Kontributor: Aqwamul Afkar

Editor: Tim Redaksi Majalah Nuswantara edisi 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *