WEBINAR HARI SANTRI 2020: SANTRI DAN KITAB KUNING KUNCI MAJUNYA PERADABAN DAN PROBLEMATIKA ZAMAN

0
380

“Webinar puncak hari santri kali ini mungkin akan terasa lebih ke mauizah hasanah, karena memang alasan kami (NU Maroko) mengadakan itu sebagai trobosan baru, agar tidak terus-menerus mengundang narasumber yang dikenal dengan gelar akademik ketika mengadakan webinar, sekaligus membantu kami semua (para santri) agar tidak lagi minder dengan kesantrian yang kami miliki di zaman sekarang yang hampir di semua bidang memerlukan gelar formal …”. Demikian dikutip dari sambutan ketua syuriah NU Maroko.

Berlandaskan kutipan demikian, NU Maroko berinisiatif mengadakan rangkaian acara dalam menyemarakkan Hari Santri Nasional yang ke-5 perhari Selasa, 20 Oktober hingga Kamis dengan tema besar Santri dan Kitab Kuning; Kunci Majunya Peradaban dan Problematika Zaman via zoom meeting, siaran langsung youtube PCINU Maroko, NU Channel, 164 Channel, dan Majalah AULA. Dengan adanya bantuan akses penyiaran dari berbagai media NU, PCINU Maroko dapat berbagi dan memberi manfaat kepada masyarakat yang lebih luas. Banyak peserta dari berbagai penjuru dan kalangan turut menyimak dan mengambil ilmu dari para narasumber yang luar biasa.

Webinar puncak kali ini mengundang tokoh-tokoh besar yang memang masyhur dengan ketulenan santrinya yaitu KH. Syarif Rahmat (Pengasuh Pondok Pesantren Ummul Qura’ Pondok Cabe dan Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga) dan KH. M. Abdurrohman Al-Kautsar (Putra KH. Nurul Huda Jazuli Pengasuh PP. Al-falah Ploso, Mojo, Kediri) setelah terlaksana webinar bersama Dr. Aziz El Kobaithi Idrissi Hassani dan diskusi Hari Santri 2020 dengan Wakil Katib Syuriah NU Maroko: Sibli Nasrullah, Lc sebagai pematerinya.

Dokumentasi webinar via zoom meeting

Moderator membacakan runtutan acara yang dimulai dengan membaca tahlil bersama, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan-sambutan, acara puncak, tanya jawab, dan ditutup dengan pembacaan do’a. Saat sampai acara inti, KH. Syarif Rahmat memberi hidangan pembuka berupa penjelasan filosofi makna “kuning” pada kitab kuning di kebahasaan Indonesia dengan dua hal; pertama, padi yang sudah menguning yang bermakna kedewasaan. Kedua, bendera kuning yang bermakna kematian.

“Jika dikaitkan dengan padi yang sudah menguning, maka artinya santri adalah insan yang menguasai kitab kuning yang sudah siap dihidangkan di masyarakat, jika dikaitkan dengan bendera kematian, maka artinya santri ditugaskan untuk mengingatkan akan kematian pada masyarakat yang barangkali punya kecendrungan kecintaan duniawi, sehingga kedua makna ini saling berhubung dan tak dapat dipisahkan”. Ungkap KH. Syarif Rahmat.

Menurut beliau, kata lain dari kitab kuning adalah kitab yang sudah diolah dari bahan-bahan mentah terbaik dan terjamin kualitasnya berupa Al-Qur’an, As-Sunnah, dan kehidupan, sehingga setiap santri yang mengonsumsi kitab kuning dan menguasainya, mereka yang bertanggung jawab untuk menyajikan hidangan yang sehat dan terjamin ke masyarakat.

Adapun terkait penamaan kitab kuning yang itu masih sering terdengar hingga sekarang, walau barangkali kita (baca: santri) sudah banyak beralih ke kitab putih atau kitab elektronik adalah karena kitab kuning yang pertama kali mengenalkan kitab-kitab lain yang berisi ilmu keagamaan Islam pada masyarakat. Sehingga, menurut beliau, jika kitab kuning yang dimaksud adalah kitab yang kertasnya berwarna kuning, dan sekarang sudah berubah warna dan bentuknya, akan selalu dikenal dengan sebutan kitab kuning.

Beliau menambahkan harapan agar suatu saat di Indonesia, gelar-gelar di dunia santri seperti membaca Syahadat berarti TK, Sholat berarti SD, Zakat berarti SMP, Puasa berarti SMA, Haji berarti perguruan tinggi, dan jika sudah mencapai kepakaran akan diberi gelar Kyai bisa disama-ratakan dengan gelar formal akademik.

“Jika nanti di Indonesia gelar-gelar ini disama-ratakan, maka semangat untuk mengkaji kitab kuning tidak akan kalah dengan semangat orang mendatangi kampus-kampus besar.” Terang beliau.

Penjelasan beliau berakhir pada kespesialan kitab kuning bagi para penikmatnya dibanding buku-buku biasa, yaitu pada bait-bait nadzom di kitab kuning yang diterjemahkan dari berbagai sudut pandang, seperti pada bait-bait nadzom Alfiyyah Ibn Malik.

“Seperti pada bait “lirraf’i wa annashbi wa jarri na sholah # ka’rif bina fainnana nilna alminah” bait ini adalah penjelasan bahwa dalam keadaan rofa’, nashob, ataupun jar, dhomir muttasil “نا” tetap menggunakan redaksi yang sama yaitu “-na”. Sehingga, hikmahnya kita bisa bergaul dan bertahan dengan siapa saja, termasuk pada golongan elit atau rofa’, pada mahasiswa atau nashob, dan pada adik-adik kelas atau jar”. Ungkap beliau.

Beralih pada pembicara kedua yaitu KH. M. Abdurrohman Al-Kautsar atau yang kerap disapa Gus Kautsar, beliau memberikan banyak pengetahuan yang perlu kita catat, salah satunya terkait kesimpulan beliau terhadap narasumber pertama tentang santri kitab kuning.

“Santri itu dalam setiap langkahnya haruslah ilmiah, artinya kita tidak hanya ikut-ikutan dalam menjalankan segala hal, tapi kita juga punya ilmu dan pendalaman akan segala hal yang kita lakukan dan imani”. Jelas beliau.

Tidak sampai di situ, beliau melanjutkan betapa pentingnya merantau dari tanah kelahiran seperti yang Nahdliyin Maroko lakukan sekarang, ditambah dengan maqolah Imam Syafi’i, setidaknya seorang perantau bisa mendapatkan lima faedah.

“Di antaranya, njenengan bisa jalan-jalan, juga bisa memperoleh kehidupan, nah selain njenengan mengaji, bekerja, atau apapun, jangan lupa juga untuk berkhidmah pada ulama, selain itu njenengan bisa mendapatkan ilmu, kebudayaan di sana, dan berteman dengan orang-orang hebat”.

Pembicaraan beliau kemudian mengerucut tentang pentingnya khidmah pada ulama, merujuk pada perkataan Sayyid Abu Bakar Syatha dalam kitab Kifayat Al-Atqiya.

“Di sana dikatakan, berkhidmah pada ulama, ahli fiqh, dan ahli tasawwuf, lebih utama daripada sholat-sholat sunnah, karena dengan berhidmah itu menjadi ibadah dan pertolongan kita bagi orang lain, dengan membantu para ulama dalam mengajar dan memfasilitasinya, kita bisa wushul dan diterima di hadapan Allah “.

Melanjutkan isi dari kitab Atqiya, beliau kemudian menjelaskan bahwa setiap orang memiliki jalannya masing-masing untuk bisa wushul ke hadiratNya, selain dengan beribadah kepada Allah, berpuasa, sholat, membaca wirid, dan bekerja agar tidak merepotkan orang lain, khidmah kepada ulama adalah salah satunya jalan yang bisa diambil.

Khidmatun linnas ini maksudnya ya para ulama, sesuai dengan yang dikatakan Abdullah Ibn Mubarok di kitab Ihya’ ketika ditanya ‘siapa itu manusia’, jawab beliau ya orang yang memiliki kecakapan ilmu (ulama), karena dengan ilmulah manusia dianggap berbeda dari hewan”.

Webinar ini kemudian berlanjut ke sesi tanya-jawab dan keseluruhan sesi webinar telah diabadikan di kanal youtube PCINU Maroko juga kanal-kanal media partner webinar kali ini, diharapkan dengan pengetahuan yang sudah diraup dari webinar bisa membuat para santri dengan kitab kuningnya bisa lebih maju dan kompetitif dalam menghadapi problematika zaman.

Kontributor: Lakpesdam NU Maroko 20-22

Editor: Irma M. Jannah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here