Sketsa Hitam-Putih Ayah

0
535

            Wajah tua itu terlihat cemas. Sesekali tangannya bergetar, berkeringat, dan wajahnya pasi. Dia terduduk lesu di kursi rodanya, di sudut ruangan, menyimak pembicaraan kami. Sesekali aku meliriknya, ia masih tertunduk cemas, khawatir, atau entahlah mungkin takut.

            “Aku tidak bisa merawat ayah. Kau tahu sendiri pekerjaanku menumpuk di kantor. Aku juga sering pergi ke luar kota. Dan ah… istriku sibuk mengurus bayi kita,” keluh kakakku.

            Aku melirik kembali ayah yang berada di sudut ruangan. Wajahnya tertekuk jauh ke dalam. Aku tak tega melihatnya seperti itu. Namun, ayah sendiri yang menginginkan dan memohon agar bisa tinggal dengan kakak.           

“Ayah, apa Ayah mau tinggal denganku?” tanyaku menghampirinya. Wajahnya perlahan tegak memandangku. Hanya memandang. Tak berujar apapun. Namun, aku merasakan kepiluan, penyesalan, dan kaca-kaca air mata dari matanya. Perlahan matanya beralih menoleh ke dinding. Sebuah dinding dengan warna putih pudar yang masih sedikit tampak coretan crayon di beberapa titik. Aku tercenung. Apa karena itu ayah tidak ingin tinggal bersamaku?

***

           “Integral dari 3+3 adalah…” suara ayah terdengar lantang sedang memberi soal matematika kepada kakakku. “Bisa gak?”

            “Hmm… bisa yah. Bentar, aku hitung dulu,” kakakku segera mencoret ruang kosong di kertasnya dengan sangat cepat. Dan saat itu usiaku 10 tahun. Seharusnya sudah cukup besar untuk memahami makna matematika dan pelajaran lainnya.

            “Kak! Kak! Aku pinjam crayonnya ya!” kataku menghampiri kakak yang sedang berkonsentrasi menghitung dengan ayah di sampingnya. Tanpa menunggu respon dari kakakku, aku segera mengambil crayon dari tasnya dan membawanya ke suatu tempat.

            Aku mengambil warna abu-abu dan segera mencoretkannya ke dinding rumahku, di ruang keluarga. Pulasan pertama berhasil membentuk sebuah garis lengkung. Aku mengambil lagi warna merah, memulasnya dengan penuh semangat seolah dinding adalah kanvas yang terbentang luas bagiku.

            “Rizal!” crayon merah itu patah begitu aku mendengar bentakan dari ayah. Aku memandang dinding di hadapanku. Masih belum menunjukkan apapun.

            “Bukannya belajar malah coret-coret tidak jelas! Apa ini? Gambar apa ini? Tidak jelas seperti ini! Di dinding lagi! Sini kamu!” bentakan ayah semakin tinggi intonasinya. Wajahnya merah padam melihat dinding yang tercoret itu.

            Kakiku terbata-bata menghampirinya. Dan aku menjerit begitu ayah memutar daun telingaku kencang-kencang sambil mengucapkan kata-kata menyesal, kecewa, membanding-bandingkanku dengan kakak.

            “Lihat kakakmu itu! Ranking 1 terus. Kapan kamu bisa kayak dia? Kapan kamu bisa buat ayah tersenyum? Kerjaannmu buat onar terus. Buat masalah terus. Ayah menyesal, kenapa dulu ibumu melahirkan anak sepertimu!” tangannya terlepas dari telingaku, tetapi sakitnya masih terasa, seperti telingaku baru saja putus dari kepala. Air mataku mengalir menahan sesak tangisku.

            “Sini kamu! Kerjakan ini! Ayo! Jangan hanya bisanya coret-coret dinding. Gak berguna coret-coret dinding. Kayak anak kecil saja. Kamu sudah 10 tahun!” ayah menarik lenganku dan menyuruhku untuk duduk. Di hadapanku kini ada buku matematika yang harus kukerjakan. Aku hanya memandanginya tak tahu harus mengerjakannya dari mana dan bagaimana. Ayah masih mengawasiku, membuat mau tak mau harus memegang pensil dan mulai menulis. Entah apa yang kutulis itu benar atau tidak.

            “Sudah? Sini ayah lihat!” ayah menarik kertas dariku dengan cepat sebelum sempat aku mengatakan apapun. Aku tak bisa pelajaran matematika. Ayah bisa menyuruhku apa saja, asal jangan matematika. Namun, dalam prinsip ayah hanya matematika yang bisa membuat kehidupan menjadi lebih baik.

            “Salah semua! Ayah sudah pernah ajarin kamu kan? Sebenarnya kamu paham gak sih? Kenapa susah sekali ngajarin kamu! Dasar pemalas!” katanya seraya mengayunkan penggaris logam ke punggung tanganku. Berkali-kali, mulai dari bagian tumpul penggaris hingga bagian runcingnya.

            “Biar kamu tahu bagaimana susahnya punya anak pemalas seperti kamu. Biar kerjaanmu gak coret-coret dinding lagi. Mau jadi apa kamu nanti hah?” plak, pukulan terakhir mendarat di punggung tanganku. Kakak yang berada di sampingku sampai tak tega melihatku seperti ini. Namun, tak ada satu orang pun di rumah ini yang bisa menghalangi ayah untuk marah, termasuk almarhumah ibu sekalipun.

Tanganku merah dengan guratan darah bergaris-garis bekas pukulan penggaris. Perih, kaku, dan tak bisa digerakkan lagi. Dengan air mata berlinangan aku pergi ke kamar mandi untuk merendam tanganku di air, merasakan perihnya air membasuh memar di tanganku, merasakan kulit yang terkelupas dan air yang sukarela masuk ke dalam dagingku, dan merasakan tulang jemariku yang seakan rapuh untuk bergerak kembali. Aku menahan jeritan tangisku seorang diri.

            “Biar kamu tahu bagaimana susahnya punya anak pemalas seperti kamu. Biar kerjaanmu gak coret-coret dinding lagi. Mau jadi apa kamu nanti hah?” plak, pukulan terakhir mendarat di punggung tanganku. Kakak yang berada di sampingku sampai tak tega melihatku seperti ini. Namun, tak ada satu orang pun di rumah ini yang bisa menghalangi ayah untuk marah, termasuk almarhumah ibu sekalipun.

Tanganku merah dengan guratan darah bergaris-garis bekas pukulan penggaris. Perih, kaku, dan tak bisa digerakkan lagi. Dengan air mata berlinangan aku pergi ke kamar mandi untuk merendam tanganku di air, merasakan perihnya air membasuh memar di tanganku, merasakan kulit yang terkelupas dan air yang sukarela masuk ke dalam dagingku, dan merasakan tulang jemariku yang seakan rapuh untuk bergerak kembali. Aku menahan jeritan tangisku seorang diri.

            Sejak saat itu, aku tak pernah bisa menyentuh crayon lagi. Duniaku runtuh dan menghilang seperti coretan crayon yang terselimuti cat dinding baru. Ayah menyuruhku mengurung diri di kamar dengan buku-buku matematika. Aku tak benar-benar memahaminya. Angka–angka itu hanya singgah untuk kemudian musnah. Puncak kekesalan ayah, ketika aku mendapatkan nilai UAN terendah di sekolah dan tentu saja aku tak akan diterima di SMP favorit ayah dan kakakku.

Hingga suatu malam, aku mendengar percakapan antara ayah dan kakak. Ayah berencana memasukkanku ke pondok pesantren. Aku tak masalah ingin dimasukkan ke sekolah manapun dan jenis apapun itu, tapi yang membuatku khawatir adalah ayah menjadikan alasan pondok pesantren sebagai alibinya untuk tidak mengunjungiku lagi.

           Ternyata benar, hal yang kukhawatirkan terjadi. Semua barangku sudah siap berada di koper. Ayah tak pernah menguraikan maksud dan tujuannya memasukkanku di pondok pesantren dan aku pun enggan untuk mempertanyakannya. Entahlah, hubunganku dengan ayah jauh lebih renggang pasca kejadian coretan di dinding itu dan sejak saat itu aku urung membuka suara apapun kepada ayah. Lebih baik diam, daripada menyulut api amarah.

            Ayah tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku harus dijauhkan dari rumah dengan umur sekecil itu, belum genap 12 tahun. Ayah juga tak mau tahu bagaimana kondisi kamar, ruang belajar dan kenyamananku di pondok pesantren baruku. Seusai mengantarku dan menemui kyai, ayah tak banyak mengucapkan nasehat-nasehat seperti ayah orang lain pada umumnya. Ayah segera meninggalkanku dan aku baru menyadari bahwa itu adalah terakhir kali aku melihat punggung ayah menghilang dari balik pondok pesantren selama 6 tahun aku bersekolah di sana.

            “Gak dijenguk lagi? Tampaknya malang sekali kau, Le[1],” ucap Kak Bagus, penghuni satu kamar denganku yang umurnya terpaut 3 tahun dariku. Dia berdecak, layaknya seseorang yang baru saja melihat keanehan, padahal dia sudah dua tahun melihatku hanya meratapi bayangan ayah di balik pagar pondok pesantren. Selama dua tahun, ayah hanya mengirimiku uang lewat pos tanpa pernah babibu mengirimi surat, menanyakan kabarku ataupun datang langsung untuk menjenguk.

            “Jangan kau tekuk muka kau itu lah Le. Udah ikut aku aja jalan-jalan,” sambungnya. Aku mengangguk setuju.

            Kak Bagus benar-benar membawaku pergi. Sepanjang perjalanan, dia menceritakan apapun yang kulihat. Dia suka sekali bercerita dan berpetuah, maka jika kutanya sedikit, jawabannya pasti lebar sekali. Entahlah, aku merasakan hadirnya seorang kakak di sini karenanya. Dia sangat mengayomi sebagai seorang kakak, jauh lebih mengayomi daripada kakakku kandungku sendiri.

           Bahkan di tahun pertama aku memasuki pondok, dengan wajah takut dan kikuk, dia menghampiriku dan mengajakku berkenalan. Setelah itu dia memutuskan untuk sekamar denganku. Sepanjang hari dia bercerita tentang keindahan pondok kita dibanding sekolah negeri pada umumnya. Semua ceritanya membuatku bahkan tak sempat sedikit pun untuk mengeluh berada di sana sekarang. Aku jauh lebih baik. Tak ada ayah yang memaksaku untuk paham matematika, tak ada kakak yang selalu kuiri karena kepintarannya, karena di sini, kami mendapat perlakuan yang sama. Bahkan di tahun pertama, bacaan Al-Qur’anku bisa dikatakan cetheg sekali. Kak Bagus yang mengajariku dari nol dan tak ada paksaan di setiap metode belajarnya.

            “Waaah… sudah sampai. Ayo turun!” ujarnya. Aku melihat bus berhenti di sebuah tempat yang cukup sepi. Hanya ada sepotong ruas jalan yang menjadi tempat bus menurunkan kami dan sebuah hamparan tanah lapang.

            Aku mengikuti langkahnya. Tak ada apapun di tempat itu. Hanya hamparan tanah dengan rumput yang masih hijau. Memberi kesan menenteramkan. Kak Bagus terus berjalan hingga berhenti beberapa langkah dari mulut jurang. Dia menyuruhku melihat ke bawah. Di seberang sana tampak pegunungan dengan awan kumulus yang menaunginya. Di kaki gunung terbentang sawah dengan kontur garis yang berpola layaknya sebuah labirin jika dilihat dari atas. Kiri-kanan sawah, deretan rumah dengan jarak berdekatan membentuk sebuah miniatur kecil yang mengagumkan. Sementara yang di tengah–tengahnya bersembulan pabrik-pabrik tebu dengan cerobong asap khas mereka. Kami berdiam sejenak selama 20 menit sambil sesekali Kak Bagus bercerita tentang keindahan kota ini.

           Setelah setengah jam berlalu, kami memutuskan untuk kembali ke pondok. Kak Bagus bilang, dia masih punya tugas dari ustadz yang harus dikumpulkan besok. Tak apa, setengah jam pun cukup membuatku merasa lega dan jauh lebih gembira dari sebelumnya.

           “Oh tugasku…” ucap Kak Bagus sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal begitu melihat setumpuk perkamen, pena, penggaris, dan alat tulis lainnya. Tak ada yang bisa kukerjakan hari itu. Liburanku masih cukup panjang dan tak ada tugas dari ustaz. Aku hanya menemani Kak Bagus membuat tugas sambil sesekali mendengarkan ia melucu untuk menghilangkan penatnya sendiri dan sekadar melirik buku gambar dan pensilnya.

            “Kak, boleh minta buku gambarnya?” tanyaku kepadanya. Dia mengernyitkan dahi.

            “Buat apa? Katanya gak ada tugas?”

            “Aku bosan tak melakukan apapun Kak.” Dia mengangguk memberiku sebuah kertas gambar dan mulailah aku menggambar apa yang ada di dalam kepalaku. Sebuah sketsa dari kota yang baru saja kami lihat. Untuk pertama kalinya sejak kejadian coretan di dinding itu, aku berani menggambar kembali. Akhirnya setelah sekian lama, waktu mampu mengubur luka itu dan Kak Bagus memberiku arti lain sebagai seorang kakak yang tanpa ikatan darah tapi aku bisa merasakan arti persaudaraan itu.

            Semenit, dua menit, hingga setengah jam sketsaku sudah mulai terbentuk. Tanpa aku sadari Kak Bagus bukannya mengerjakan tugas, justru tengah memperhatikanku.

           “Wah… gambarmu keren banget. Mirip aslinya lho. Kayak 3 dimensi gitu. Kayak foto gitu,” ujarnya takjub. “Ustaz Ramdan harus tahu nih.”

           Ustadz Ramdan adalah ustaz muda di pondok kami. Beliau merupakan pembimbing ekstrakurikuler dan bakat para santri. Ketika pertama kalinya aku ditanya apa bakatku, aku hanya menggeleng kepadanya. Di saat semua temanku semua sudah memilih bakatnya, aku hanya menatapnya kosong seperti seseorang yang baru keluar ke peradaban. 

           Apa yang digumamkan Kak Bagus ternyata benar-benar terjadi. Seusai kajian harian di masjid, Ustaz Ramdan menemuiku dan memintaku memperlihatkan gambarku. Dalam radius beberapa meter, aku melihat Kak Bagus mengerling ke arahku. Sudah pasti dia yang memberitahu Ustaz Ramdan.

           “Zal, gambarmu detil sekali. Bagaimana kamu melakukannya?” tanya Ustaz Ramdan tatkala kuperlihatkan gambarku.

           “Dia hanya berpegang ingatan, Taz,” celetuk Kak Bagus yang tiba-tiba muncul di belakang Ustaz Ramdan.

            “Ingatanmu kuat sekali, Nak. Hmm… saya teringat jika ada pameran seni di balai kota. Apa boleh gambarmu ini saya sertakan?”

           Aku kikuk mengangguk. Namun, bagaimana pendapat orang lain tentang gambarku. Mungkinkah akan seindah pujian Ustadz Ramdan? Rencana Ustaz Ramdan membawa gambarku ke pameran memang bukan main-main. Banyak yang mengapresiasiku dan banyak pula yang memberi masukan kepadaku. Sejak saat itu, Ustaz Ramdan membimbingku terus menerus. Bahkan mengenalkanku dengan beberapa temannya yang juga menyukai dunia grafis.

           Aku melihat sketsa duniaku mulai terbentuk di sini. Sketsa yang sempat terhapus beberapa tahun silam. Gelak tawa Kak Bagus, teman-teman santri yang selalu menghargaiku dan Ustaz Ramdan yang kuanggap seperti ayahku sendiri. Semuanya lengkap di sini. Bahkan matematika yang  kabarnya dulu selalu menjadi musuh bebuyutanku, kini mulai bersahabat denganku. Apalagi sejak aku mengenal penghitungan 3 dimensi ada dalam matematika. Bahkan aku terbiasa hidup tanpa ayah dan kakak. Iya, tanpa ayah. Tanpa kasih sayangnya, bahkan tanpa uang kiriman darinya sekalipun. Bahkan ketika yudisiumku pun ayah tak datang. Seolah-olah ayah benar-benar memutuskan hubungan denganku. Aku juga tidak berniat untuk meninggalkan pesantren ini. Di sini rumahku yang sesungguhnya. Surgaku, bukan neraka yang bersemayam di tempat tinggalku dulu. Hanya saja, pilu yang sudah lama kubenamkan kembali muncul, rindu yang dulu pernah kusematkan di hati kembali mengetuk pintu hatiku.

            “Afwan, tadi ada seseorang yang mengaku sebagai kakakmu datang ke sini. Dia bilang ayahmu terkena stroke dan harus duduk di kursi roda,” kata Kak Bagus menghampiriku yang sedang menyelesaikan sketsa terbaruku. Aku berhenti memegang pensil. Terdiam cukup lama.

            “Kakakmu masih di luar, jika kamu ingin menemuinya dan kembali pulang.”

            “Buat apa dia ke sini? Untuk menyuruhku merawat ayah? Katakan padanya saja Kak, aku ingin tetap di sini,” ujarku mencoba menahan rindu yang sempat menghujaniku dulu.

            “Zal, apa kamu tidak ingin bertemu dengan ayahmu? Bukankah dulu kau selalu bercerita ingin dipeluk oleh ayahmu seperti anak-anak yang lain?”

            “Waktu sudah berlalu Kak, rindu yang ada sudah luntur, keinginan yang pernah ada sudah pudar dan terganti dengan hal baru. Lagipula Rizal sudah tidak butuh ayah lagi, Rizal sudah bisa mencari uang lewat hobi Rizal, yang bahkan dulu ayah sempat ingin memadamkannya.”

            Kak Bagus tampak terkejut mendengar ucapanku. Entah perasaan apa yang tengah menjalari naluriku saat ini.

           “Zal, bukankah seharusnya waktu menyembuhkan semua luka itu? Ayahmu mungkin menyesal pernah melakukan itu. Ayahmu mungkin ingin sekali bertemu denganmu saat ini. Jangan takabur juga Zal. Mungkin justru karena perbuatan ayahmu dulu yang membuatmu bisa masuk ke pesantren ini, bertemu Ustaz Ramdan dan mengembangkan bakat lebih maksimal. Coba pikirkan bagaimana jika dulu ayahmu tidak menghardikmu dan tidak membawamu ke sini? Mungkin kau akan sama dengan anak-anak lain yang hidup tanpa pernah menemukan bakat sesungguhnya. Hidup ini butuh proses Zal dan ayahmu membukakan satu pintu proses untukmu.”

            Aku tercenung untuk waktu yang cukup lama. Memang tidak mudah memaafkan perlakuan ayah jika kembali mengenang bagaimana jeritanku dulu. Bagaimana perihnya luka di tanganku. Bagaimana sakitnya mendapat pukulan penggaris logam. Luka di tanganku mungkin sudah tak berbekas lagi, tapi bagaimana dengan hatiku yang masih memar. Namun, apa yang dikatakan Kak Bagus memang benar. Biar bagaimanapun ayah adalah orang tuaku yang membesarkanku sejak kecil, sudah menjadi kewajibanku untuk berbakti dengannya. Lagipula untuk apa ilmuku selama di pesantren jika tak mampu mengubahku menjadi sosok yang lebih dewasa.

            Aku berdamai dengan hatiku dan mau menemui kakakku.

***

           “Enam tahun aku berada di pesantren tanpa jengukan dari siapapun Yah, tetapi di sana aku diajarkan untuk tidak lupa ke mana harus kembali pulang. Walaupun aku tak sesukses kakak, tapi sekarang aku sudah bisa menyewa kontrakan di sebelah pesantren. Kita berdua bisa tinggal di sana. Sambil aku akan terus menabung dengan hobiku ini Yah, untuk membelikan Ayah rumah dan membawa Ayah berobat,” kataku kepada laki-laki tua yang saat ini sudah tak sekuat dulu lagi. Laki-laki itu menatapku dalam-dalam. Bibirnya tak mampu menguraikan kata-kata, tetapi matanya penuh selaksa maaf.

***


[1] Kata sapaan yang berarti Nak (untuk laki-laki) dalam Jawa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here