Sejarah Perbudakan di Maroko

0
697
dok: https://www.alamy.com/stock-photo-the-slave-market-in-morocco-1888-artist-richard-caton-woodville-ii-17641093.html

“Saya merasa terasing di tanah air saya sendiri, di luar tanah air saya merasa pula sebagai orang asing. Kami hidup dalam zaman perbudakan.”

(Nawal El-Saadawi – Perjalananku Mengelilingi Dunia)[1]

Berbicara tentang budak dan perbudakan, maka yang ada hanyalah narasi luka dan sejarah gelap kemanusiaan. Berbagai referensi mencatat bagaimana awal mula sejarah manusia mengeksploitasi manusia lain. Entah kapan dan siapa yang memulai awal dari sistem perbudakan ini, tapi jika diurut secara historis maka praktek perbudakan telah ada sejak jaman peradaban kuno. Mulai dari peradaban Mesopotamia, Asyur, Yunani, Mesir Kuno, Romawi, hingga masuk dalam babakan sejarah peradaban Islam.

             Dalam tradisi Islam sendiri, term perbudakan memang sudah tidak asing lagi. Jauh sebelum masa kenabian, kita telah mengenal bahwa Hajar, istri Nabi Ibrahim, merupakan budak perempuan yang dinikahinya atas izin Sarah istri sah Ibrahim. Nama yang tidak asing lagi adalah Luqman Al Hakim yang disebutkan dalam surah Luqman merupakan seorang budak yang berasal dari Sudan. Hal ini senada dengan Hadist Nabi Muhammad yang berbunyi, “Pemimpin orang-orang Sudan adalah Luqman Al Hakim, Bilal bin Rabbah, An-Najjasyi, dan Mahja’.”

            Ada sebuah  film menarik berjudul The Birth Of Nation yang disutradarai oleh Nate Parker. Film ini bercerita tentang pemberontakan kaum budak di daerah Virginia yang dipimpin oleh Nat Turner. Ia bukan hanya seorang budak, tapi juga pribadi terpelajar yang dapat membaca dan menulis, dua hal yang dilarang kepada para budak, serta menjadi seorang pengkhotbah Injil bagi kaumnya agar mengajarkan bahwa manusia harus tunduk pada majikannya. Inilah salah satu keresahan yang menjadi sumber kekuatan untuk melawan perbudakan kulit putih atas bangsa kulit hitam selain kekejaman dan penindasan yang dialami oleh kaum budak.

Perbudakan Pada Masa Romawi Kuno

 Dalam catatan yang ditulis oleh Melanges Gustave Glots pada tahun 1928 menyebutkan bahwa perbudakan telah ada di selatan Afrika pada akhir awal abad pertama masehi. Hal ini ditandai dengan adanya catatan sejarah kuno yang ditulis oleh sejarawan Yunani, Fronton. Ia menjelaskan bahwa para raja dari amperium Romawi kuno memiliki banyak budak untuk membantu urusan kerajaan mereka. Terutama dalam hal pertanian dan urusan pangan.

Sekitaran abad 4 dan 5 M, banyak sekali terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh para budak, disebabkan kekerasan yang mereka terima dari para penguasa Romawi. Pada masa ini kekuasaan Romawi dipegang oleh aliran keagamaan Kristen bernama Donatiah. Aliran ini berkembang pesat di daerah Afrika selatan juga di Tunis, Aljazair dan perairan Magrib. Pada masa kepemimpinan Agustinus I, madhab ini menjadi agama resmi kekaisaran Romawi Afrika dan bertahan hingga masuknya agama Islam pada abad 7 dan 8 M.

Selain bekerja dalam sektor pertanian, para budak juga dipekerjakan di pemerintahan kerajaan Romawi sebagai penjaga arsip-arsip, penwas keuangan kerajaan, juga pengirim surat-surat untuk kepentingan Romawi kepada kerajaan lain. Para budak ini disebut dalam Bahasa latin Familia Urbana oleh kaum aristokrat.

Masa Islam

Islam datang sebagai agama yang membebaskan penganutnya dari perbudakan. Konsep kesetaraan di hadapan manusia menjadi hal penting yang menjadi fokus ajaran Islam sendiri. Yang membedakan makhluk di hadapan Tuhan adalah amal ibadah masing-masing. Lantas muncul pertanyaan, bagaimana perbudakan bisa bertahan dan langgeng dalam kekuasaan Islam dan diatur sedemikian rupa dalam hukum dan fatwa-fatwa ulamanya, khususnya pada wilayah Barat Islam atau Al-Maghrib Al-Arabi.

Dalam Al-Quran sendiri, terdapat beberapa kata yang berasal dari Bahasa Al Habsyah (Ethiopia) seperti yang termaktub dalam surat Al Baqoroh ayat 148. Thuba Lahum. Kata Thuba disini merupakan bukan kata Bahasa Arab, tapi berasal dari Bahasa Al-HAbsyah yang berarti nama Taman di Ethiopia. Juga kata Haraja yang termaktub dalam Surat Ar-Ra’d ayat 29. Para sahabat nabi tidak paham apa arti kata tersebut dan bertanya kepada Nabi, lalu nabi menjawab, “Kata itu berasal dari lisan orang Al Habsyah yang berarti membunuh.”

Setelah Islam melakukan ekspansi ke daerah Maghrib dan Andalus. Islam mulai menjadi agama yang memiliki banyak penganut, terutama oleh kalangan budak Bar-bar. Seiring berjalannya waktu, perbudakan semakin menjadi hal yang lumrah di kalangan para penguasa Islam kala itu. Dalam catatan Ibnu Adzari menyebutkan bahwa para penguasa Bani Umayyah di Timur Islam khawatir terhadap Musa bin Nushair, pemimpin ekspansi kaum muslim ke Maghrib Andalus, karena memiliki budak dari bangsa Bar-bar berjumlah ribuan. Karena ditakutkan melakukan pemberontakan kepada penguasa Umayyah.

Perdagangan Budak

Bukan suatu hal asing lagi bahwa perdagangan budak di kalangan kaum muslim Magrib dan Andalus. Budak dijadikan sebagai objek komoditi perdagangan diantara para penguasa. Tak pelak terjadi sebuah polemic di kalangan para fuqoha tentang hukum perdagangan budak ini. Salah satu fatwa masyhur dari ulama barat Islam bernama Ahmad Baba At-Timboukti yang mengatakan bahwa barang siapa yang masih berada dalam kekafiran atau tidak memeluk islam maka boleh untuk diperbudak dan diperjualbelikan.

Yang perlu digarisbawahi adalah kata kafir. Ahmad Baba berusaha memberi batasan atas apa yang selama ini berlaku bahwa budak muslim boleh diperjualbelikan. Ia secara gamblang mengkritik praktek jual beli budak muslim, dan membolehkan budak Sudan, Nasrani, Yahudi, Persia juga orang-orang Bar-bar yang tidak mau memeluk Islam.

Tak berhenti disini, perdagangan budak pun berlanjut pada skala yang lebih besar. Hubungan antar negara, antar kerajaan, antar dinasti menjadi hal sentral dalam stabilitas negara. Salah satunya hubungan kerajaan Maghrib dan Sudan. Sudan terkenal di seantero wilayah kala itu penghasil budak terbaik. Mereka memiliki fisik yang kuat, sehat, dan patuh terhadap majikannya. Selain itu pengusa Magrib juga melakukan perdagangan komoditi lain seperti batu mulia, keramik, dan makanan pokok. Hal ini disebutkan oleh Al Idrisi dalam kitabnya Washfu Ifriqiya.

Pada masa akhir dinasti Murabitin, Mahdi Bin Tumart dan pasukannya yang terdiri dari kaum budak melakukan perlawanan yang sengit dan pemberontakan berdarah hingga berhasil mengalahkan dinasti Murabitun pada tahun 1146 M. Ia pun mendirikan dinasti Muwahhidun dengan semangat ketauhidan.

Pada masa dinasti Saadi. Praktek perdagangan budak masih eksis dan terus berkembang. Mulai dari pasar-pasar tradisional yang memamerkan para budak di kalangan umum. Seperti yang terjadi pada wilayah Timur Islam dan Andalus masa sebelumnya.

Dalam artikel yang ditulis oleh Jean De Gonville dan diterjemahkan oleh Muhammad Al-Arjouni menjelaskan pada abad ke 15 M para penduduk Senegal dan Sudan mulai banyak memeluk Islam. Begitu pula sebagian besar para budak banyak yang memeluk Islam. Lantas banyak sekali fatwa yang melarang legalisasi perdagangan budak muslim ini yang senada dengan fatwa Ahmad Baba sebelumnya. Tapi larangan ini tidak berlaku pada penguasa kala itu, dan masih menjadikan budak sebagai objek pelayan dan pemuas nafsu di dalam kerajaan mereka.

Pada pertengahan abad 19, Prancis mulai menjajah wilayah Senegal. Perdagangan budak telah mengikis habis. Tapi pada saat bersamaan, masih ada praktek perbudakan dimana anak turun para budak sebelumnya masih diperjualbelikan. Dan perbudakan bangsa kulit hitam masih ada.

Eugane Aubain ketika berkunjung ke Maghrib pada tahun 1902 M menggambarkan bagaimana suasana pasar budak yang berada di kota Marrakesh: “Pasar budak yang berada di Marakesh buka sepekan tiga kali. Yaitu pada hari Rabu, Kamis dan Jumat. Para majikan datang memenuhi kios-kios yang disediakan. Ada yang dari selatan dan dari utara. Memarkan budak-budak perempuan mereka dan menawarkan kepada para pembeli. Budak-budak itu telanjang dan diikat kaki dan tangannya. Mulut mereka disumpal sementara majikan melakukan tawar-menawar kepada para pembeli.[2]

Demikianlah sekilas sejarah ringkas perbudakan di Maroko atau Maghrib Al Arabi. Setelah Maroko mendapat kemerdekaan dari Prancis, perbudakan pun mulai berakhir. Mungkin perbudakan telah bertranformasi menjadi perbudakan modern dengan gaya dan model yang lebih elegan.

Oleh: Fakhruddin


[1]. Perjalanku Mengelilingi Dunia, Nawal El Saadawi halaman 285 cetakan pertama tahun 2006. Oleh Yayasan Obor Indonesia

[2] Ditulis pada surat kabar Le Maroc pada tahun 1922 saat penulis berada di Paris.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here