Resensi Kitab Kasyfu Al-Tabaarih fi bayani Sholat Al-Tarawih

0
331
  1. Identitas Kitab
  • Judul kitab: Kasyfu al-Tabaarih fi bayani Sholat al-Tarawih.
  • Penulis: KH. Abu Al-Fadhol Ibnu ‘Abdi Al-Syakur Senori At-Thubani.
  • Jumlah hal. inti: 5 hal.

2. Penulis

Beliau adalah KH. Abu Al-Fadhol bin ‘Abdi Al-Syakur Senori. Ayah beliau bernama ‘Abdus Syakur yang nasabnya bersambung kepada Mbah Sambu Lasem dan Joko Tingkir. Dan ayah beliau merupakan sahabat karib dari Hadrotussyekh Hasyim Asy’ari. Mbah Senori dikenal sebagai seorang yang ‘alim dalam ilmu agama. Sekalipun beliau belum pernah mencicipi dan merasakan belajar di Makkah ataupun dunia Arab akan tetapi mempunyai kapasitas keilmuan yang sangat luar biasa. Beliau sangat masyhur dikenal sebagai ‘alim yang zuhud dan sengaja tidak ingin terkenal dari keahliannya.

Dari beliau kita bisa mengambil pelajaran hidup untuk selalu mempunyai kerendahan hati kepada siapapun. Ada suatu kisah menarik dari sosok ulama kharismatik ini. Suatu hari ketika wafatnya KH. Zubair Dahlan ayahanda dari KH. Maimoen Zubair, Mbah Senori datang untuk bertakziyah. Pada momentum ini masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang datang dengan pakaian yang bisa terbilang sangat sederhana, selendang dan peci bewarna hitam. Orang-orang sekitar tidak mengetahui bahwa beliau adalah Kiai besar. Setelah KH. Maimoen Zubair menyambut kedatangan Mbah Senori, kemudian langsung diantarkan ke tempat yang layak. Bahwa terungkaplah sosok asli beliau yang sangat tawadhu’, yaitu Mbah Abuul Fadhol Senori yang mempunyai banyak sekali karangan kitab-kitab berliteratur Arab.

Mbah Fadhol Senori mempunyai banyak keistimewaan dalam diri beliau, salah satunya adalah ketika menginjak pada umur 9 tahun beliau mampu menghafal Al-Qur’an yang ditempuh hanya 2 bulan saja. Mbah Senori mulai menghafalkan Al-Qur’an sejak umur 3 atau 4 tahun dan sekaligus sudah mempunyai tabungan hafalan sekitar 15 juz yang ditempuh 1 bulan saja, masuk kepada bulan kedua beliau sudah mampu mengkhatamkannya. Metode yang beliau pakai adalah memuraja’ah dengan sekali dudukan sebanyak 3 kali. Memasuki umur ke 11 tahun, beliau mampu mengkhatamkan dalam membaca sekaligus memahami kitab Al-Ajurrumiyyah, Taqrib, Fath Al-Mu’in, Fath Al-Wahhab, Al-Qafrawi dan lain sebagainya.

Beliau memulai belajar ilmu agama kepada ayahnya yaitu KH. ‘Abdus Syakur dan Hadrotussyekh Hasyim Asy’ari. Diantara guru-guru beliau yang lain adalah, KH. Faqih Maskumambang (W.1930), Syekh Muhammad Baqir Al-Jughjawi Al-Makki adalah sosok ‘alim, muhaddits dari Yogyakarta, Syekh Abu Bakar Syatho Al-Dimyati Al-Makki pengarang Kitab I’anatuthoolibin syarah dari Kitab Fath Al-Mu’in dan ulama masyhur lainnya.

Beliau adalah sosok ulama yang sangat mendalami banyak ilmu agama dan memiliki sastra arab yang tinggi ketika dituangkan ke dalam karya-karyanya yang luar biasa, diantaranya : 

  1. Ahla al-Musaamaroh fi Hikayaati Awliya Al-‘Aysroh (Kisah 10 para wali di bumi Nusantara), kenapa 10 wali? Karena dari wali songo kemudian ditambah Syaikh Siti Jenar. Dan tersebarnya Islam di Nusantara salah satu dari perjuangan para wali-wali Allah SWT.
  2. Tashil Al-Masaalik fi Syarh Alfiyyah Ibnu Malik.
  3. Kasyfu Al-Tabaarih fi Bayaani Sholaati Al-Tarawih.
  4. Al-Durr Al-Fariid fi Syarh Jawhar Al-Tauhid.
  5. Al-Kawaakib Al-Lumma’ah fi Tahqiq Al-Musamma Bi Ahlissunnah Wal jama’ah.
  6. Syarh Al-Kawakib Al-Lummaa’ah.
  7. Kifayatu Al-Thullab fi Al-Qawa’id  Al-Fiqhiyyah.

3. Seputar Kitab. 

Kitab Kasyfu Al-Tabaarih fi Bayaani Sholaati Al-Tarawih adalah sebuah karya yang masyhur di kalangan pesantren jawa khususnya di bumi nusantara. Kitab ini berisi 5 halaman yang ringkas juga padat. Menggunakan bahasa arab yang fasih dengan menyertakan beberapa hadis yang tentunya berhubungan dengan subtema ini.

Penulis juga tidak lupa untuk menampilkan tema-tema khusus dalam Bab Shalat Tarawih ini, seperti hadis-hadis yang menjelaskan shalat taraweh apa saja, tata cara melaksanakan shalat taraweh, bilangan rakaat tarawih dan lain sebagainya. 

  • Pada umumnya penulis memulai dengan muqoddimah serta memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT dan bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. 
  • Selanjutnya penulis menjelaskan sebab penamaan kitab ini dan menceritakan peristiwa singkat yang terjadi pada masyarakat di tanah Jawa. Kala itu banyak kelompok  yang menghukumi bahwa seseorang yang shalat tarawih 8 rakaat adalah bid’ah.
  • Penulis menyikapi problematika ini dengan mencari solusinya. Beliau juga mengkritik kelompok tersebut dengan sikap mereka yang terburu-buru dalam menentukan hukum, sempitnya pengetahuan dan pemahaman yang tidak relevan pada zaman modern ini.
  • Penulis juga mencatat beberapa sumber hadis yang datang dari Nabi Muhammad SAW, sahabat dan para tabi’in.
  • Menjelaskan perihal bid’ah dan mengklasifikasikannya.

4. Sinopsis

Kitab yang dikarang oleh Mbah Fadhol Senori ini sangat ringkas dan mempunyai tema-tema yang sederhana dan juga mudah dipahami oleh kalangan para santri. Dan memang pada hakikatnya agama Islam selalu mempermudah pemeluknya, akan tetapi jangan dianggap mudah dan mengentengkan rambu-rambu syariat yang sudah ditetapkan Allah SWT kepada makhluk-Nya.

Karya ini telah memberikan jawaban atas problematika agama yang banyak diperbincangkan masyarakat, khususnya di tanah Jawa dalam hal shalat tarawih, selain itu mushonnif juga mengkritik kelompok-kelompok terdahulu yang dirasa menyeleweng dari syariat. Pada akhir pembahasan beliau menuangkan isi hati dan pikirannya dalam menyikapi problematika, dengan harapan masyarakat tidak lagi mudah dalam menghukumi bid’ah dsb.

Pada awal bab, mushonnif mencatat beberapa hadis yang diriwayatkan oleh Abu Huraira RA dan Aisyah RA, hadis tersebut mengisahkan kepada kita bahwa sejatinya Nabi Muhammad SAW sangat senang sekali menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan meperbanyak ibadah, mulai dari shalat, membaca Al-Qur’an sampai berdzikir dan apapun kegiatan baik yang dianjurkan kepada para sahabat dan umatnya. 

Dalam riwayat-riwayat hadis diatas sama sekali tidak disebutkan bilangan shalat tarawih, hanya menyiratkan beberapa anjuran-anjuran di bulan Ramadhan saja. Saya pun menyimpulkan memang pada hakikatnya Nabi Muhammad SAW pun tidak mengharuskan shalat tarawih ini menjadi suatu hal yang wajib, justru beliau sangat khawatir kepada umatnya akan peristiwa ini memberatkan mereka, padahal bukan seperti itu. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, peristiwa ini masih berlanjut sampai tonggak kepemimpinan Khalifah Abu Bakar RA. dan Umar RA.

Selanjutnya, beranjak ke Bab Kedua. Beliau mulai membahas tata cara shalat tarawih yang tentunya didasarkan pada dalil sunnah yang berhubungan dengan permasalahan ini. Mbah Fadhol Senori membagi bab ini menjadi dua keterangan yang merujuk pada Imam Bukhari dalam Shohih-nya :

Pertama, menerangkan bahwa barang siapa yang menghidupkan malam bulan Ramadhan dengan mengharap pahala dari Allah SWT, maka akan diampuni dosanya yang lalu.

Kedua, menerangkan bahwa ada sekelompok orang-orang yang berada di dalam masjid yang sedang melaksanakan shalat berjamaah bersama imamnya masing-masing. Kemudian Sayyidina Umar RA. mengumpulkan mereka menjadi satu jemaah sekaligus mengutus Ubay bin Ka’b sebagai imamnya. 

Mbah Senori mengomentari kedua hadis diatas dalam beberapa poin. Bahwa shalat tarawih pada dasarnya tidak dilakukan secara berjamaah, melihat pada tindakan Nabi Muhammad SAW di 4 malam itu, kala itu beliau melaksanakan shalat tarawih di rumah.

Ulama terdahulu berpendapat bahwa shalat tarawih lebih baik dikerjakan sendiri di rumah masing-masing, melihat dari Nabi Muhammad SAW juga melakukan amalan tersebut. Hingga pada akhirnya Nabi Muhammad SAW wafat dan hal ini terus berlangsung sampai masa Khalifah Umar RA. Sayyidina Umar RA, Imam Malik, Abu Yusuf dan sebagian para penganut madzhab Syafi’i berpendapat bahwa shalat tarawih lebih baik dilakukan secara berjamaah seperti tradisi yang sudah-sudah. 

Begitupun ulama lain berpendapat sama, bahwa shalat tarawih baiknya dilakukan di masjid secara berjamaah. Pendapat ini berdasarkan tindakan Nabi Muhammad SAW yang pernah shalat bersama beberapa orang pada suatu malam, dan beliau membenarkan amalan itu. Namun yang dikhawatirkan Nabi Muhammad SAW adalah ketika beliau wafat nanti, tradisi ibadah seperti ini akan dianggap wajib oleh umatnya.

Mbah Senori lagi-lagi menyikapi beberapa hadis lain, salah satunya hadis yang diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah. Beliau menyampaikan isi hadis tersebut bahwasannya ketentuan dalam shalat tarawih adalah dilaksanakan secara berjamaah, sekaligus beliau membantah seseorang yang mengatakan hal ini adalah bid’ah. Yang dimaksud perkataan Umar RA. tentang lafadz bid’ah itu sendiri sebenarnya mengarah pada perihal mengumpulkan kelompok untuk melaksanakan jamaah yang dipimpin satu imam di masjid yang sebelumnya jamaah itu terpisah-pisah, bukan pada konteks tarawihnya. Karena sudah jelas bahwa Rasulullah SAW telah mensyariatkan, melaksanakan shalat tarawih.

Dalam bab terakhir dengan judul “Bilangan Rakaat Shalat Tarawih”. Beliau menyajikan hadis-hadis tentang shalat tarawih yang didalamnya disebutkan bilangan rakaat yang berbeda-beda. Diantaranya, hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Baihaqi dalam kitab Sunannya dari Ibnu ‘Abbas RA. berkata: “Suatu hari di bulan Ramadhan, Nabi Muhammad SAW shalat bersama kami sebanyak 20 rakaat”. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Hibban dari Jabir: “Nabi Muhammad SAW shalat bersama kami pada bulan Ramadhan 8 rakaat kemudian witir, dst”. 

Dari semua bilangan shalat tarawih yang diriwayatkan dalam beberapa hadis diatas cukup mengundang banyak perdebatan dan perbedaan, sampai pada akhirnya Mbah Fadhol Senori menyarankan supaya jangan dijadikan hujjah atau dalil. Karena ada beberapa hadis yang masuk kategori hadis dho’if .

Mushonnif akhirnya memberikan jalan keluar dengan mengambil dalil yang pasti, yaitu konsensus (ijma’) dari umat Islam pada zaman Khalifah Umar bin Khattab RA. bahwa shalat tarawih dikerjakan sebanyak 20 rakaat.

Diriwayatkan oleh Baihaqi dengan sanad yang shohih dari Al-Saaib bin Yazid RA. berkata: “Pada masa Umar Bin Khattab, mereka semua melaksanakan shalat tarawih pada bulan Ramadhan sebanyak 20 rakaat.” Begitupun yang diriwayatkan dari Imam Malik dalam Muwattha’nya dengan redaksi yang sama. Dari sini kita bisa menarik garis merah, bahwa shalat tarawih dilakukan sebanyak 20 rakaat kemudian ditutup dengan shalat witir sebanyak 3 rakaat.

Beliau juga menyampaikan bahwa seseorang yang melaksanakan shalat tarawih 8 rakaat sekarang, sejatinya mereka bertolak belakang dari ijma’ (kesepakatan ulama), dan barang siapa yang bertolak belakang dengan ijma’ maka dihukumi kafir atau fasik. Merekalah orang-orang yang tidak berpegang kepada sunnahnya khulafaaurrasyidin, dan barang siapa yang bertolak belakang dengan sunnahnya khulafaaurrasyidin maka dia telah bertolak belakang atas perintahnya Nabi Muhammad SAW. 

5. Kelebihan Kitab.

  • Adanya kitab ini menjelaskan kepada kita agar membuka pikiran, wawasan kita supaya tidak sempit dengan pemahaman yang terbatas dan mudah menghukumi kepada seseorang yang berbeda ‘amaliyyah dengannya, jelas itu sangat tidak baik.
  • Kitab ini memuat sumber hadis-hadis yang tidak hanya menyebutkan para perawinya saja, akan tetapi disebutkan derajat shahih atau dho’if dari hadis tersebut. Disertakan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi kala itu, sehingga pembaca bisa mendapat gambaran yang lebih jelas.
  • Dikemukakannya kritik dan komentar yang sangat tajam nan lugas dari mushonnif dalam menyikapi problematika ini, baik perihal hadisnya, kaidah ushul fiqhnya, hukum syariat apa saja yang bersangkutan, dsb.

6. Kekurangan Kitab.

  • Menurut hemat peresensi, kekurangan dari kitab ini adalah percetakan yang di dalaamnya masih ditemukan kesalahan pada kalimat dan suatu lafadz yang dikhawatirkan nantinya akan berujung keliru dalam memahami teks.
  • Tentunya harus dibimbing oleh seseorang yang mumpuni dalam membaca kitab klasik ini, sekalipun temanya mudah dipahami tetapi ada beberapa pembahasan yang membutuhkan nalar lebih dalam.

Refresnsi :

  1. Abdullah Aniq Nawawi, 2018, Abu Al Fadhol As Senori Al Indonisi Wa Madhabihi Al Asyariyah, Fakultas Ushuluddin, Universitas Abdul Malik Es Sa’adi, Tetouan.

Kitab bisa diakses atau didownload di link berikut: https://drive.google.com/file/d/17L9lEVcXGF_aFdb2FLXL-fwek-xp8cW9/view?usp=drivesdk

Kontributor: M. Reja Najib, Lc.

Editor: Irma M. Jannah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here