Potret Kehidupan Masyarakat Muslim Modern

0
262
PCINU Maroko, Sejatinya, setiap ajaran yang didakwahkan oleh para nabi terdahulu memiliki prinsip dan visi misi yang sama, ia selalu mengandung dua dimensi yang berbeda. Adakalanya visi dan misi tersebut mendeskripsikan konsep ketuhanan yang sarat dengan nuansa langit dan bersifat vertikal, artinya bahwa ia berhubungan dan berkaitan hanya antara dirinya dengan Tuhan. Pada dimensi lain mendeskripsikan konsep kedamaian dan keharmonisan dalam hidup dan kehidupan di muka bumi bahkan alam raya. Konsep ini menjadi spirit dan motivasi tersendiri agar terciptanya kehidupan sosial yang majemuk dan komprehensif, harmonis dan damai,  senantiasa memperhatikan keseimbangan dan stabilitas alam raya. Ajaran ini bersifat horizontal yang berhubungan antara dirinya dan sesama makhluk lainnya di alam raya.
Dengan melihat kuatnya urgensi pada konsep ajaran agama yang esensial tersebut, maka harus dikondisikan pula bahwa hal tersebut memiliki tanggung jawab dan konsekuensi yang sama besarnya, baik dimensi yang memuat konsep ketuhanan yang bersifat vertikal atapun dimensi yang memuat konsep kehidupan sosial yang bersifat horizontal. Kedua prinsip pokok ajaran ini tidak terpisah satu sama lain atau lebih prioritas salah satunya, akan tetapi sebaliknya, seperti dua sisi mata uang, keduanya merupakan format satu kesatuan yang saling melengkapi dan saling menyempurnakan.
Inilah konsep dasar yang menjadi misi utama dalam setiap dakwah para utusan Allah. Sebuah konsep yang menstimulus dan memotivasi munculnya kesadaran akan eksistensi Tuhan dan bersolidaritas tinggi dalam menjaga dan melestarikan alam, sebuah konsep yang mempromosikan kedamaian, keharmonisan, dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Seseorang yang menyadari akan eksistensi ketuhanan, maka ia harus mampu menghilangkan duri di jalanan.
Seseorang yang percaya terhadap keesaan Tuhan maka hatinya tidak akan merasa tenang disaat saudaranya kelaparan.
Seseorang yang telah berkomitmen terhadap prinsip ketuhanan maka ia tidak akan berdiam diri disaat tetangganya sakit dan susah.
Seseorang yang berikrar dan bersumpah atas doktrin ketuhanan maka ia harus memiliki rasa kepekaan dan solidaritas yang tinggi terhadap alam raya dan makhluk di sekitarnya.
singkat kata, jika perhatikan secara seksama begitu eratnya hubungan antara kepekaan sosial seorang hamba dengan dogma agama yang normatif. yang kesemuanya seiring sekata dengan dakwah Para Rasul. Ia akan terindikasi dengan sikapnya yang acuh terhadap problem dan kepedulian sosial. Dalam konteks  universal, Konsep ajaran seperti ini tentu sangat ideal dan menuntut adanya implementasi dan realisasi dalam upaya yang serius, tidak hanya mempresentasikan keintiman manusia ketika berhubungan dengan Tuhannya. Lebih dari itu, bahwa kemesraan manusia dengan Tuhannya akan di nilai dan di ukur dari sensitifitas dirinya terhadap problem hidup dan kehidupan sosial. 
Boleh pula dikatakan, semakin tinggi kualitas hubungan vertikalnya terhadap Tuhan maka semakin tinggi pula hubungan horizontalnya terhadap tanggung jawab dan solidaritas pada problem sosial. Dan jika tanggung jawabnya terhadap kehidupan sosial rendah maka sesungguhnya ia sedang berada jauh dari Tuhannya.
Selain itu, konsep ajaran  ini juga memiliki keserasian dan memberikan porsi yang seimbang antara jasmani dan rohani. Tidak hanya fokus pada pembicaraan tentang konsep ubudiyyah, namun, konsep ini juga menyinggung secara mendetail tentang prinsip dasar mu’amalahAjaran agama yang interpretatif ini, sangatlah rentan untuk disalahartikan dari hakikat dasarnya yang terkadang bersifat prinsipal dan sangat esensial bagi penganutnya sendiri. Sehingga diperlukan kajian dan ijtihad extra yang lebih kekinian oleh sarjana muslim.
Dilihat dari sisi sosio-kultural,  pada masyarakat Islam, di Indonesia khususnya, banyak ditemukan praktik agama dan kemasyarakatan yang tidak berjalan pada rel yang diharapkan. Karena secara normatif, agama mengharapkan nilai-nilainya dapat diterapkan di kehidupan sosial. Namun realitanya pesan-pesan agama tersebut hanya berhenti di masjid, tempat peribadatan dan lembaga-lembaga agama lainnya. Jika kita melihat realita masyarakat modern saat ini, mayoritas memahami bahwa konsep ini adalah mutlak ajaran langit, secara totalitas yang hanya mempresentasikan ajaran ketuhanan yang bersifat vertikal. Konsep dan isu-isu ajaran ini lebih efektif jika dibahas dan di perbincangkan di masjid dan musholla, komunitas dan ormas-ormas islam, sekolah dan kampus-kampus religi. Sementara di tempat-tempat lain yang sangat strategis konsep ini tidak menjadi trending topic dan isu yang menarik untuk dibahas bahkan tak jarang orang mengklaim tidak relevan untuk dibicarakan pada konteks tersebut. Sehingga pada akhirnya klaim pelanggaran atau dosa hanya berlaku pada mereka yang melanggar norma atau aturan-aturan ketuhanan yang bersifat vertikal. Sementara mereka yang bersikap destruktif terhadap alam dan makhluk lainnya, ilegal loging, pencemaran polusi dan sungai, bertindak subjektif, tidak proporsional dan sebagainya tetap aman dari klaim tersebut. 
Interpretasi seperti ini akan berakibat pada pembatasan kekuasaan Tuhan. Artinya bahwa Tuhan dipersepsikan hanya berurusan dengan mereka yang berada di masjid, kampus-kampus agama dan sebagainya. Tuhan dianggap hanya berteman dan berprioritas kepada mereka yang belajar agama, dalam lingkungan pesantren, santri, ustadz, dan kiai. Seakan-akan hanya merekalah yang pantas dan diluar lingkungan ini bukan menjadi urusan dan prioritas Tuhan. Dalam konteks diplomasi dan birokasi, eksistensi Tuhan hanya bersifat formalitas dan ceremonial, Ia sebagai instrument dan pemantas hari-hari besar keagamaan saja, sementara diluar itu eksistensi Tuhan dianggap berpengaruh dan bahkan tidak memiliki arti penting. Begitu juga halnya dalam konteks karir, profesi, dan bisnis, Tuhan hanya diperlukan ketika karir dan profesinya cenderung stagnan atau bisnisnya yang sedang mengalami deadlock. Namun disaat karir atau profesinya menanjak dan cenderung istimewa atau bisnisnya sedang booming maka Tuhan tidak lagi penting untuk dihadirkan, seakan-akan Ia hanya menjadi penting bagi mereka yang sedang bermasalah saja, sementara mereka yang berada pada puncak kejayaan, eksistensi Tuhan tidak lagi relevan untuk didiskusikan.
Kemungkinan, seperti inilah potret kehidupan masyarakat modern saat ini. Terjadi sebuah transisi atau pergeseran bahkan peralihan terhadap interpretasi pemahaman konsep pada masyarakat, bisa jadi hal ini disebabkan karena adanya distorsi yang cukup lama oleh para pemikir dan pengembang konsep tersebut . Selain itu, tidak banyak koreksi dan perbaikan yang dilakukan oleh mereka terhadap interpretasi seperti ini bahkan tidak sedikit yang terkesan membiarkan. Hal inilah yang mendasari bahwa perlu adanya usaha dan upaya yang serius untuk mengevaluasi dan mengoreksi kekeliruan persepsi terhadap konsep yang sudah terlanjur mendominasi dimasyarakat. Wallahu a’lam.
Penulis: Andri Kurniadi, Mahasiswa S1 di Universitas Hassan II Casablanca

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here