Peringatan Tahun Baru 1442 H dan Haul Akbar Masyayikh NU

Bulan Muharram adalah salah satu bulan yang sangat istimewa dan dimuliakan umat Islam. Allah SWT telah menyatakannya dengan sangat jelas dalam Q.S At-Taubah ayat 36. Selain menjadi bulan istimewa karena kemuliaaannya, 1 Muharrom menjadi momen awal tahun yang sangat pas untuk muhasabah an-nafs atau intropeksi dan memperbaiki diri. Terutama kita semua tahu bahwa salah satu keutamaan bulan Muharram adalah segala amal baik akan dilipatgandakan oleh Allah SWT pada bulan-bulan istimewa ini. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan yang merugi karena menyia-nyiakan keutamaan bulan Muharram.

Dalam rangka memperingati tahun baru Islam dan Haul Masyayikh NU, NU Maroko mengajak para Nahdliyin Maroko berlomba-lomba dalam kebaikan, diantaranya melalui kegiatan tahlil, maulid dan diskusi seputar topik-topik yang sangat menarik. Kegiatan ini diadakan secara bergilir dari satu kota ke kota lain, dimulai pada tanggal 20-27 Agustus 2020.

Berikut adalah hasil diskusi dari beberapa kota :

  1. Kota Tetouan.

Tema atau topik : Peran Kyai terhadap Tradisi di Indonesia.

Pemimpin diskusi: Subhan Ghozaly.

Notulen: Hanif Hidayatullah.

Narasumber: H. Muhammad Elvin Fajri Rahmika dan seluruh anggota NU  Maroko di Tetouan.

  • Tradisi Indonesia adalah perbedaan, dan perbedaan antar umat adalah rahmat, perkataan sayyidina Umar Ibn Abdul Aziz dalam kitab Faidhul Qadir: tidaklah membuatku gembira jika para sahabat tidak berbeda pendapat, karena perbedaan mereka adalah keringanan bagi umat.
  • Batas perbedaan antara kiai dan murid adalah dalam hal pendidikan (ta’lim) jika memang memiliki preferensi yang sama kuatnya, tapi murid harus selalu mematuhi perkataan dan manut pada kiai dalam hal adab (ta’dib).
  • Perbedaan suatu budaya juga menjadi pertimbangan kiai dulu hingga sekarang ketika memberikan dawuh, seperti tidak dianjurkan makan sapi di daerah kudus untuk menghormati pemeluk agama Hindu.

2. Kota Fes

Tema atau topik: Perjalanan Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah.

Pemimpin diskusi: Ahmad Ihabul Fathi.

Narasumber: Adhli Al-Qarni dan seluruh warga Nahdliyin di kota Fes.

  • Kata Hijrah berasal dari kataهاجر يهاجر yang memiliki makna berpindah. Kata ini memiliki keutamaan dalam ilmu isytiqaq sebab termasuk dalam jenis kata yang memiliki istiqaq kubra.
  • Hijrah ada yang hakiki, sebagaimana firman Allah dalam Alquran (وأرض الله واسعة فتهاجروا فيها), dan ada juga yang maknawi, sebagaimana ucapan Nabi Luth AS yang diabadikan dalam Alquran (وإني مهاجر إلا ربي).
  • Hijrah Nabi SAW bermula sejak dari Makkah bersama Abu Bakar RA di waktu malam.
  • Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA bersembunyi di Gua Tsur selatan Makkah dengan sebab-sebab khusus.
  • Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA singgah di Quba dan membangun masjid di sana.
  • Rumah Rasulullah SAW saat proses pembangunan Masjid Nabawi adalah di rumah Abu Ayyub Al-Anshari daerah Bani Najjar.
  • Buku sirah dan fikih sirah berbeda. Masing-masing ada ciri khas.

3. Kota Tangier.

Tema atau topik: Pesantren dalam Sistem Pendidikan di Indonesia.

Pemimpin diskusi: M. Tharekh Era Elraisy.

Notulen: Irma Mirshodatul Jannah.

Narasumber: Seluruh anggota NU Maroko di kota Tangier.

  • Pesantren adalah lembaga pendidikan yang mengajarkan pengetahuan keagamaan Islam berdasarkan kitab klasik (turats) dan memiliki seorang pemimpin (kiai) serta sanad yang jelas.
  • Pesantren sudah ada sejak Islam belum masuk ke Indonesia. Dalilnya: budaya pesantren dan sikap seorang santri yang berbeda jauh dari budaya arab, dimana budaya ini diperoleh dari proses akulturasi dengan budaya setempat.
  • Sistem pendidikan di Indonesia sedikit banyak dipengaruhi oleh sistem pendidikan Belanda. Peran pesantren di dalamnya juga sangat penting dengan adanya pendidikan moral dan etika di kurikulum 2013.

4. Kota Aioun.

Tema atau topik: Merdeka pun Masih Berjuang.

Pemimpin diskusi: Nurmilla Izzati.

Notulen: Ni’matul Maula Nur.

Narasunmber: Monica Syarifah Lulu’atul Al Hajiri dan seluruh Nahdliyin di kota Aioun.

  • Realita mengatakan, radikalimse dan terorisme terjadi dimana-mana. Jika 75 tahun lalu indonesia berhasil berperang  melawan penjajah, kini justru berperang  melawan bangsa sendiri.
  • Mencintai tanah air indonesia dan berkiprah dalam membangun negara sesuai dengan kadar kemampuan umat adalah kewajiban bagi setiap individu.
  • Hal terpenting dari membela tanah air untuk masa sekarang ini bukan diartikan jihad ala mengangkat senjata dan perang, akan tetapi jihad memerangi kebodohan dan kebobrokan akhlak, jihad menumpas perpecahan dan kemunduran-kemunduran lain guna meraih kebahagian dan maslahat keduniaan dan keagamaan.

5. Kota Kenithra.

Tema atau topik: Merdeka Menurut Perspektif Anak Muda.

Pemimpin diskusi: Afifah Rabbaniyatul Ummah.

Notulen: Izzatul Muslimah.

Narasumber: Muhammad Sidqon Siroj dan seluruh warga Nahdliyin di kota Kenithra.

Merdeka adalah ketika negeri ini berusaha untuk menentukan nasibnya sendiri. Merdeka bukan merupakan awal dari perjuangan namun awal dari hasil ijtihad pendiri bangsa tentang “mau diapakan negeri kita ini kedepannya?”. Mereka menanamkan nilai optimisme, semangat untuk menyongsong kehidupan di masa depan yang lebih baik.

Merdeka juga merupakan sebuah pondasi untuk menuju persatuan bangsa yang berdaulat, adil dan makmur. Lalu, apa arti merdeka menurut kita sebagai kawula muda? Apakah negeri ini benar-benar telah merdeka dan mencapai tujuan kemerdekaannya? Dan bagaimana seharusnya kita mengisi hari-hari kemerdekaan kita?

  • Arti kemerdekaaan.

Merdeka adalah ketika kita bisa melakukan apa yang kita mau tanpa campur tangan pihak lain, tanpa merasa terkekang dan dikendalikan oleh orang lain. Karena pilihan hidup ada di tangan kita sendiri. Merdeka diambil dari bahasa Sansekerta “Mahardika” yang berarti kaya, sejahtera dan bebas (dari penjajahan dan intervensi).

Mengutip ucapan Bung Karno, bahwa memperjuangkan kemerdekaan merupakan hal yang berat, namun mempertahankannya jauh lebih berat. Dan hukum menjaga kemerdekaan adalah fardhu ‘ain sebagaimana yang dikatakan oleh beliau, Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari.

  • Apakah negeri ini benar-benar telah merdeka dan mencapai tujuan kemerdekaannya?  

Ketika kemerdekaan itu telah kita capai, bagaimana keadaan setelah merdeka? Kita bisa mengamati keadaan sekitar kita apakah kesejahteraan yang menjadi tujuan kemerdekaan sudah dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat atau belum. Tentu kita akan sama-sama menjawab belum karena baru segelintir masayarakat saja yang merasakannya dimana mayoritas rakyat kita masih hidup dibawah garis kemiskinan yang semakin meningkat setiap harinya.

Beberapa daereh terpencil di Indonesia, Kalimantan misalnya. Dimana infrastruktur belum memadai, kemajuan transportasi sangat sulit dijumpai, kualitas pendidikan juga sebagian masih sangat terbelakang sekali. Kita bisa melihat bahwa mayoritas masyarakat Kalimantan adalah sebagai juragan dan petani sawit. Mereka memiliki lahan yang luas, uang yang bisa dikatakan cukup.

Lalu apa yang menjadikan mereka terbelakang? Apa yang menjadi sebab terjadinya ketimpangan? Sebenarnya standarisasi kesejahteraan itu seperti apa?

Ada yang mengatakan bahwa standarisasi kesejahteraan itu berbeda-beda maka lebih baik dikembalikan kepada ‘Urf  (standar umum masyarakat). Ada juga yang berpendapat bahwa miskin itu tidak ada, yang ada hanyalah perasaan miskin yang terus dipelihara dan tidak mau berusaha.

Maka dengan melihat berbagai macam persoalan yang ada, pemerintah dirasa telah menjalankan tugas-tugas yang seharusnya dilakukan demi pemerataan kesejahteraan yang telah lama dicita-citakan karena setiap negara pasti memiliki PR, memiliki permasalahan sendiri-sendiri yang harus dihadapi. Misalnya Singapura dengan berbagai kemajuan yang telah dicapainya dan SDM yang memadai dan berkualitas namun memiliki persoalan lahan yang sempit. Amerika sebagai negara adidaya masih saja disibukkan dengan imigran-imigran yang tidak ada habisnya. Artinya ini adalah hal yang biasa.

Kemudian, apakah arti kemerdekaan hanya sebatas kesejahteraan? Tentu saja tidak. Merdeka adalah awal menuju sejahtera. Maka kemerdekaan ini harus kita isi agar tujuan tersebut dapat terealisasi. Nah, kita sebagai generasi muda yang akan meneruskan perjuangan para leluhur kita, pertanyaannya, kontribusi apa yang dapat kita beri untuk mengisi kemerdekaan kita ini?

  • Bagaimana seharusnya kita mengisi hari-hari kemerdekaan kita?

Perjuangan mempertahankan kemerdekaan demi meraih tujuan-tujuan yang dicita-citakan di masa depan bukan hanya tugas pemerintah belaka, namun ada dipundak semua warga negara Indonesia, khususnya kita para generasi muda. Walaupun kita memiliki perspektif yang berbeda-beda dalam memaknai arti kemerdekaan itu sendiri, tapi kita memiliki keresahan yang sama, memiliki semangat yang sama dan keinginan yang sama untuk melangkah bersama demi Indonesia yang lebih baik kedepannya.

6. Kota Rabat.

Tema atau topik: Merdeka dalam Menjaga Diri dari Godaan Nafsu.

Pemimpin diskusi: Mukhtar Hanif Zam­-Zamy.

Notulen: Muhammad Ali Ridho.

Narasumber: Seluruh warga Nahdliyin di kota Rabat.

Sesuai dengan apa yang pernah diperingatkan oleh Nabi Muhammad, ketika usai perang Badar yang dahsyat, banyak dari kalangan umat Islam yang meninggal, Beliau bersabda, “Kalian telah pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran akbar”. Salah satu sahabat bertanya, “Apakah pertempuran akbar (yang lebih besar) itu wahai Rasulullah? Rasul menjawab, “Jihad (memerangi) hawa nafsu.”

Apabila kita teliti lebih lanjut sabda tersebut, sifatnya sangat umum, tidak hanya terkhusus dengan konteks yang telah kita sebutkan, bahkan untuk kondisi bangsa Indonesia yang telah melewati masa kelam 350 tahun dijajah oleh Belanda, dan ditambah lagi 3,5 tahun dijajah oleh Jepang. Semangat heroik bangsa kita silih berganti melakukan perlawanan terhadap penjajah. Puncaknya saat pendudukan Jepang, dimana sekutu memborbardir kota Hiroshima dan Nagasaki. Sehingga membuat Jepang menyerah.

Kondisi kondisi tersebut merupakan kondisi dimana kita kembali dari jihad yang kecil, menuju jihad yang lebih besar yaitu melawan hawa nafsu. Bapak proklamator Ir. Soekarno pernah berkata, “perjuanganku lebih mudah karena melawan bangsa asing, dan perjuangan kalian akan lebih sulit sebab melawan bangsa sendiri”.

Perjuangan pahlawan mengorbankan jiwa dan raganya untuk bangsa ini terasa masih belum bisa kita lampaui, bila dibandingkan perjuangan kita untuk mempertahankan kemerdekaan ini. Syukur-syukur bisa memajukan bangsa ini. Kita malah bertikai pada hal yang tak seharusnya dibuat ramai, dan pertikaian itu tidak lain karena kita masih lemah dan belum siap untuk memperjuangkan kemerdekaan melawan hawa nafsu.

Sampai saat ini, kita sadari bersama perjuangan melawan hawa nafsu adalah sesuatu yang paling berat untuk dijalani. Berbeda pendapat dan pandangan boleh namun jangan sampai dilandasi dengan kebencian. Jangan menuruti hawa nafsu sehingga kita melupakan persaudaraan. Kita harus mengatur hawa nafsu, agar tidak diperbudak olehnya.

Demikian beberapa poin penting dari diskusi yang sudah dilaksanakan para Nahdliyin Maroko di berbagai kota.

Budaya bermusyawarah dan berdiskusi sudah seharusnya dilestarikan. Terutama di era pandemi seperti saat ini, meskipun ruang gerak kita dibatasi oleh protokol kesehatan, pemikiran kita harus tetap berkembang dan terus maju. Salah satu caranya, melalui kegiatan diskusi dan saling bertukar fikiran tentang topik-topik yang  tanpa kita sadari, bahwa sebenernya hal itu ada pembahasan yang sangat vital. Semoga kita semua bisa menjadi insan yang lebih baik kedepannya. Aamiin.

Kontributor: Lakpesdam NU Maroko 20-22.

Editor: Irma M Jannah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *