Pemuda Sebagai Simbol Dari Batavia Sampai Praha

0
287

NU Maroko.com, Sehari yang lalu, di tanggal yang sama, pada tahun yang berbeda, diadakan perkumpulan di Batavia. Perkumpulan ini dipayungi satu semangat yang sama: Nasionalisme. Perkumpulan ini menjadi benih dari hal yang lebih besar yang kita rayakan setiap 17 agustus. Perkumpulan ini menghasilkan sebuah sumpah: bahwa kita, seberbeda apapun tetap harus bersatu. Bahwa kita harus disatukan dengan hal yang jauh lebih besar dari perbedaan itu. Bahwa kita memegang panji yang sama. Indonesia. Siapa yang melakukan perkumpulan itu? Kita semua tahu, PEMUDA.

Sekarang kita ke Tunisia. 17 Desember 2010 seorang bernama Mohammad Bouazizi membakar diri. Dia memprotes kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada kaum bawah. Selamatkah dia? Tidak. Kita semua tahu dia mati. Tetapi ternyata Bouazizi tidak hanya membakar dirinya. Dia membakar seluruh kerisauan masyarakat Tunisia bahkan Arab secara umum. Dia membakar semangat perubahan bangsa Tunis. Setelah kematiannya, demo besar-besaran dilakukan untuk memprotes kebijakan Rezim yang sudah berkuasa selama 23 tahun. Bouaziz tidak hanya membunuh dirinya, tetapi juga membunuh kekuasaan yang menindas. Presiden Tunisia kala itu, Zine el Abidine Ben Ali terpaksa lengser. 12 bulan setelah kematian Bouzizi, empat pemimpin yang sudah berkuasa selama puluhan tahun di Tunisia, Mesir, Libya dan Yaman tumbang. Aksi bakar diri Bouazizi melahirkan apa yang kemudian kita kenal sebagai Arab Spring, atau kebangkitan Bangsa Arab. Sekarang pertanyaannya siapa Bouzizi itu? Dia juga sama dengan yang menggerakan sumpah 28 oktober: PEMUDA.
Jauh sebelum aksi Bouazizi, pada tahun 1969 di Praha, ibukota Cekoslovakia, seorang bernama Jan Palach juga membakar diri untuk memprotes aksi Uni Soviet yang ingin mengembalikan sistem komunisme yang mengekang di Cekoslovakia. Jan Palach membakar diri untuk menuntut adanya kebebasan dari sistem Komunis yang menindas. Sama seperti Bouazizi, tentu saja Jan Palach tewas. Tetapi –juga seperti Bouazizi- kematiannya adalah simbol dari perlawanan terhadap hal yang dianggap sewenang-wenang.
Memang komunisme Baru rontok dari Eropa  pada tahun 1989, 20 tahun setelah kematian Jan Palach. Tetapi aksi Palach tetap diingat sebagai semangat awal menuju kebebasan yang diimpikan masyarakat Eropa tengah dan timur, khususnya Cekoslovakia. Semangat untuk bebas dari Komunisme. Pertanyaan yang sama, siapa Jan Palach? Jawabannya masih sama. Dia seorang PEMUDA.
Pemuda, agaknya memang tidak sekedar kata yang menunjukan generasi di bawah umur 30 tahun atau 40 tahun. Dari batavia sampai Praha, pemuda adalah tentang semangat dan keberanian memperbarui sistem yang ada, tentang semangat dan keberanian melawan penindasan dan kebodohan. Pemuda adalah tentang bagaimana kita beraksi, bukan hanya berteori. Lebih dari itu pemuda bukan soal anda berumur berapa. Tetapi tentang semangat dan jiwa yang terus membara.
Ketika membaca sejarah islam, kita menemukan empat sosok yang berperan paling besar dalam sejarah islam selain tentu saja Nabi Muhammad sendiri. Empat sosok tersebut adalah Abu Bakar al-shiddiq, Umar ibn al-khaththab, Utsman ibn ‘Affan, dan terakhir Sayyidina Ali. Keempat sosok ini mewakili empat karakter yang berbeda. Abu Bakar adalah cerminan orang tua yang bijak. Umar adalah cerminan seseorang yang tegas dan bertindak cepat. Utsman mencerminkan seorang kaya yang baik hati lagi dermawan. Sedangkan Sayyidina Ali mencerminkan seorang pemuda yang cerdas, pemberani, dan banyak ide. Keempat sosok inilah kunci peradaban islam. Itu artinya, seorang pemuda –yang diwakili sayyidina ali- adalah salah satu sosok kunci untuk sebuah peradaban. Tanpa pemuda, tak akan ada peradaban. Tak heran jika Soekarno mengatakan “berikan aku 10 orang pemuda, maka akan aku guncang dunia”. Pemuda adalah kunci untuk sebuah perubahan ke depan. Apakah perubahan menuju hal yang lebih baik atau justru yang lebih buruk, ini hanya bisa dijawab oleh pemuda itu sendiri. Bagaimana menjawabnya? Harun al-Rasyid pernah berkata: “al-jawab ma sa tara, laysa ma sa aquul”. Jawaban sesungguhnya adalah apa yang akan kita lihat. Bukan apa yang akan kita ucapkan. Apakah pemuda saat ini akan merubah Indonesia menuju lebih baik? Jawabannya adalah perbuatan kita saat ini dan ke depan. Bukan koar-koar kita belaka.
Jika kita sebagai pemuda saat ini hanya berisi huru-hara dan foya-foya, tentu kita sudah tahu jawaban apa yang kita dapat dari pertanyaan “apa jadinya Indonesia ke depan”. Saya tak suka berceramah, tetapi setidaknya saya tak ingin Indonesia semakin buruk ke depan. Karena itu setidaknya mari kita mulai melakukan hal yang baik dan bermanfaat dari diri kita sendiri, dengan hal sekecil apapun. Leo Tolstoy pernah berkata “semua orang berpikir untuk merubah dunia, tetapi tak ada seorangpun yang berpikir merubah dirinya sendiri”. Setidaknya mari kita mulai dari diri sendiri. Mari kita tutup tulisan ini dengan sebuah Film. Saya menyukai satu adegan percakapan dalam Film Batman Begins. Di situ, sang pemeran utama, Bruce Wayne mengatakan: “sebagai seorang Bruce Wayne aku akan mati. Tetapi sebagai simbol perlawanan, aku tak akan mati”. Manusia sebagai sebuah individu tak akan bertahan lama. 60, 70, atau 100 tahun paling lama. Tetapi sebagai simbol, kita bisa bertahan selamanya. Pemuda, di manapun berada setidaknya harus menjadi simbol akan semangat yang tak pernah surut. Akan keberanian yang terus membara. Semangat untuk melakukan perbaikan dalam hal apapun. Dan keberanian dalam melaksanakan apa yang dia yakini. 28 oktober 1928 di Batavia yang kemudian menghasilkan Sumpah pemuda adalah simbol. Mohammad Bouazizi di Tunisia adalah simbol. Jan Palach di Praha juga adalah simbol. Mereka membuktikan bahwa nama adalah bukan hanya tentang siapa. Tetapi tentang apa yang diperjuangkan. Bahwa kita tak hidup hanya untuk diri sendiri. Bahwa muda, itu artinya adalah berjuang. Bagaimana dengan kita saat ini?

***

Penulis; Abdullah Aniq Nawawi, Lc.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here