Makna Santri dan Perannya di Masa Pandemi

Sudah kita ketahui bersama, pada dasarnya pemaknaan santri hingga saat ini belum bisa dikatakan final. Pengertian santri seperti pasal karet yang dapat dipersempit atau diperluas disesuikan dengan lawan tandingnya yang dipasang di atas panggung oleh setiap oknum. Geerts menjadi salah satu pakar yang pernah menggaungkan pemahaman bahwa santri mencakup orang-orang pesantren, NU dan kelompok-kelompok modernis (yang terpengaruh paham wahabi).

Menjadi santri tidak terbatas kepada kalangan tertentu, tetapi menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Santri tidak mengenal batas-batas agama, suku atau kelompok, tidak pula mengenal dikotomi antara santri dan abangan.

Sementara bagi penulis, menjadi santri tidak terbatas pada pengertian mengaji di sebuah pesantren tertentu dan kemudian setelah selesai akan menjadi alumni, sebab dalam kamus santri tidak pernah mengenal kata alumni, tamat atau lulusan. Sebutan atau istilah tersebut hanyalah label semata, namun pada hakikatnya semuanya masih sama yakni santri. Menjadi santri berarti belajar seumur hidup, dalam proses pembelajaran dan pengajaran yang tidak terhenti. Menjadi santri tidak terbatas dengan umur, Rasulullah shalahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda “minal mahdi ilal lahdi” (dari ayunan hingga ke liang kubur).

Ketika seseorang menyatakan dirinya sebagai santri, secara tidak langsung berarti identitas tersebut melekat seumur hidup, sebagaimana sebutan anak bangsa Indonsia yang akan selalu melekat pada diri kita, meskipun saat ini tidak berada di Indonesia.

Tapat hari ini, untuk kelima kalinya Hari Santri Nasional diperingati sebagai upaya refleksi mengenang semangat heroik resolusi jihad KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Semangat jihad tersebut tentu masih relevan apabila dilakukan pada masa pandemi saat ini meskipun secara substansinya berbeda.

Peringatan Hari Santri tahun ini nampaknya menjadi momentum penting bagi kaum santri untuk bersama sama menghadapi Covid-19 yang sudah membuat masyarakat sengsara. Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, kaum santri sudah semestinya diberikan ruang untuk ikut serta berperan dalam membantu penanganan Covid-19.

Penangan Covid-19 tidak cukup apabila hanya bertumpu pada protokol kesehatan semata. Tidak adanya dukungan dan kesadaran masyarakat tentang arti penting protokol kesehatan, maka protokol kesehatan akan kehilangan fungsinya.

Pembangkangan terhadap protokol kesehatan dan kesalahan persepsi tentang Covid-19 masih kerap ditemukan di sebagian kalangan masyarakat. Oleh sebab itu peran santri dalam tataran hablum minannas pantas untuk dihadirkan dan dikedepankan untuk kemaslahatan bersama, santri mempunyai peran penting dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang Covid-19. Santri dapat membantu mengubah paradigma, mindset, dan perilaku apatis masyarakat terkait Covid-19.

Santri yang kental akan kultur kehidupan transendental dituntut mampu memberikan edukasi terkait protokol kesehatan, melindungi para kiai, menerapkan budaya-budaya baru di lingkungan sekitar. Untuk sekedar contoh menjaga kebersihan diri dan lingkungan, tidak mengucilkan atau menjauhi keluarga pasien yang positif terinfeksi Covid-19 serta tidak menolak jenazah yang meninggal akibat Covid-19.

Lebih dari itu dengan karakteristik santri yang mampu membaca dan memahami kitab-kitab turats, santri diharapkan mampu untuk bisa menjawab berbagai problematika zaman terkait pertanyaan dan keraguan umat dalam masalah vaksin Covid-19. Sehingga nantinya program imunisasi vaksin dapat berjalan masif tanpa ada sikap resistensi masyarakat pada tataran implementasinya. Dan yang tidak kalah penting yaitu peran santri dalam mengajak masyarakat untuk tidak berhenti berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk memberikan kebaikan kepada kita atas semua yang sudah terjadi dan yang akan datang.

Pada Hari Santri tahun ini, mari kita kuatkan barisan bersama dengan berusaha berjihad membantu semua elemen masyarakat terutama upaya pemerintah dalam penanganan Covid-19. Semoga musibah ini segera berlalu dan kita bisa berkatifitas sebagaimana sebelumnya. Selamat Hari Santri Nasional 2020, santri sehat Indonsia kuat.

Kontributor: Ketua Tanfidziyah PCINU Maroko 20-22; Mokhamad Ali Ridlo

Editor: Irma M. Jannah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *