Lailatul Ijtima’ dengan kyai Ahsin Sakho

0
346

KH. AHSIN SAKHO :”ILMU PENGETAHUAN DAN KEAHLIAN MUTLAK HARUS DIKUASAI”

Beberapa saat setelah Acara Walimatus Safar : Pelepasan delegasi imam dan dai PCINU Maroko ke Belanda, Alhamdulillah PCINU kedatangan tamu agung dari Indonesia. Beliau adalah KH. Ahsin Sakho dari Cirebon yang sedang berziarah di Maroko. Ziarah ini merupakan ziarah beliau bersama keluarga yang kedua kalinya. Pertama kali beliau berziarah ke Maroko pada tahun 2016. Dan Alhamdulillah beliau berkenan memberikan mauidhoh hasanah untuk teman-teman Nahdliyin di Maroko. Walaupun beliau terlihat lelah setelah berziarah di beberapa makam auliya’ di Marrakesh dan langsung menuju Rabat. Beliau memulai mauidhoh-nya dengan mendendangkan syair dari Imam Syafi’i yang menerangkan bagaimana seorang pemuda itu harus banyak menimba pegalaman dan beralih tempat dari satu tempat ke tempat yang lain,

ما في المقام لذي عقل و ذي أدب

من راحة فدع الأوطان و اغترب

إني رأيت وقوف الماء يفسده

إن سال طاب و إن لم يجر لم يطب

“Aku melihat, bahwa seandainya air itu diam saja, maka lama-kelamaan air itu akan bau. Jika air itu berjalan, bisa mengalir, maka air itu akan bagus” dan beliau melanjutkan syair selanjutnya “Jika saja matahari itu berdiam diri saja di atas, maka orang akan bosan min ‘ujmin wa min ‘arobin. Begitu pula seandainya macan, jika ia berdiam diri saja, tidak berkelana,  maka ia tidak akan mendapatkan buruannya. Begitu pula jika anak panah berdiam diri saja, maka anak panah itu tidak akan melumpuhkan sasarannya. Begitu pula dengan para pemuda, itu dalam kehidupannya harus bisa memberdayakan dirinya sendiri, melalui ilmu pengetahuan dan pengalaman”

Beliau menjelaskan korelasi antara syair Imam Syafi’I dengan keadaan pemuda zaman sekarang. lalu mengatakan bahwa tantangan masa depan baik di Indonesia atau di mana-mana itu semakin besar. Maka dari itu, ilmu pengetahuan, keahlian, skill, mau tidak mau itu mutlak harus dikuasai. Beliau menambahkan, walaupun mahasiswa di Maroko berfokus pada Ilmu Keagamaan, tetapi harus bisa mencari peluang di Universitas di Indonesia. Mengingat dewasa ini, banyak Institut Agama Islam Negeri yang beralih menjadi Universitas dan menambahkan instrumen pendidikannya serta banyaknya Ma’had Aly yang berdiri.

Setelah menjelaskan bagaimana keadaan yang akan kita dapati kedepannya di Indonesia, beliau menceritakan tentang bagaimana seseorang itu menekuni ilmu pengetahuan dengan menyebutkan kisah nabi Musa yang berguru kepada nabi Khidir yang diabadikan oleh Allah dalam surat Al-Kahfi.

“Allah swt memberi tahukan bahwa ada seorang hamba di mana, ilmumu dengan hambaku itu, kamu belum memiliki ilmu sebagaimana hambaku itu” dan beliau melanjutkan “dan nabi Musa penasaran. Nah, ini adalah dimana seorang pencari ilmu, tidak puas dengan dirinya sendiri. Dia harus mempunyai semangat untuk mencari ilmu yang belum ia dapatkan”

Beliau menceritakan kisah nabi Musa dan pertemuannya dengan nabi Khidir. Mulai dari perjalanan nabi Musa dari negerinya dengan berbekal ikan dan pertemuannya dengan hamba yang diberitahukan Allah swt, yaitu nabi Khidir. Dengan kebiasaannya menghadapi bani Israil, jika ada sesuatu yang kurang pas dengan pandangan syariat, maka harus dicegah.

“Yang kita tahu ada tiga peristiwa pada saat itu. Yang pertama yaitu merusak sampan yang akan digunakan oleh nabi Musa dan nabi Khidir. Akhirnya diprotes. Kemudian yang kedua membunuh anak kecil. Yang ketiga bagaimana kalau setelah mereka berdua bisa menegakkan pagar yang hamper runtuh, karena sangking capeknya, nabi Musa meminta agar diberikan sedikit upah. Akhirnya nabi Khidir mengatakan, sudah tiga kali, kamu tidak lulus. Ya sudah, berarti Hadza firoqu bayni wa baynik, inilah perpisahan antara aku dan dirimu” lalu beliau melanjutkan kisah bagaimana nabi Khidir menjelaskan hikmah dibalik tiga peristiwa itu.

Beliau meneruskan, hal ini artinya nabi Musa telah mengetahui, ada ilmu yang tidak diberikan Allah kepadanya. Karena nabi Musa adalah memberikan pencerahan kepada bani Isroil. Sedangkan nabi Khidir diberikan ilmu oleh Allah untuk mengetahui masa depan.

Lalu beliau menyebutkan hadis nabi Muhammad saw. dimana malaikat Jibril mendatangi nabi kemudian menanyai nabi tentang apa itu iman, apa itu islam, dan apa itu ihsan.

“Ini merupakan teatrikal antara nabi Muhammad saw. dengan malaikat Jibril. Beginilah orang yang mau mencari ilmu, harus tampilannya yang bagus. Pakaiannya putih, terus jambulannya yang bagus seperti jambulannya pak Dubes…hehehe” beliau memberikan humor sedikit agar kami yang mendengarkan tidak meras bosan. Walaupun mendengar penjelas beliau yang sangat detail dan segar tersebut tidak membuat kami bosan sedikitpun. “datang kepada nabi. Caranya datang kepada nabi itu, kedua lututnya ditempelkan kepada lututnya nabi. Hal itu, Imam Malik di Muwatho’ menyatakan itu adalah Zahim al ‘Ulama. Seorang penuntut ilmu harus selalu mendekatkan diri kepada para ulama. Ambilah segala sesuatu dari para ulama”

Dan beliau menjelaskan bagaimana seorang penuntut ilmu harus menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik. Karena akhlak adalah puncak segalanya. Apalah artinya kekayaan tanpa akhlak. Apalah artinya ilmu pengetahuan kalau seandainya tanpa akhlak. Apalah artinya jabatan kalau tanpa akhlak.

“Jadi akhlak itu memang betul-betul harus menjadi hiasan bagi seorang yang sedang mencari ilmu pengetahuan”

Kemudian beliau menegaskan agar kita tidak hanya mengandalkan kurikulum saja. Kita harus membaca segala sesuatu. Jangan merasa cukup. Dan yang paling bagus adalah Al-Akhdu bi kulli fannin bi thorf, artinya mempunyai pengetahuan tentang berbagai macam pengetahuan, tetapi kita memikili ilmu yang menjadi spesifikasi kita.

Sebagai akhirnya, beliau menegaskan, kita sebagai orang Indonesia harus mengerti betul apa itu negara Indonesia. Kita harus meyakini dan menerima keberadaan Indonesia dengan pancasilanya dan UUD ’45 nya. Dan para pemimpin bangsa telah memikirkan segala sesuatu tentang Indonesia. Dan bersepakat dengannya. Hal ini merupakan wujud dari Kalimatin sawa’.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here