KEMBALI KE RAHIM HAWA

karya: A. waris Rovi

1/dari ghazwah…
HARI YANG LALU, jarum cuaca mencacah jengkal-jengkal tanah
Mata runcingnya binal mencerah kristal getah dari ligih pohon cendana
Yang tumbang oleh fanatisme komunitas, ras, etnis, golongan, dan agama

Jadilah kita umat beriman, tapi beda halaman
Tekun berkidung kepada hati, tapi pagar dibuat tinggi
Dan pikiran terus berguru kepada pintu-pintu besi
Hingga tubuh lain dianggap bukan diri sendiri
Hari-hari memuja keangkuhan dan setuju pada setiap pengkotakan
;kau-aku beda ibu, beda darah, membagi jarak sejak di puting susu.

Aku adalah aku, kamu adalah kamu
Jarum cuaca telah membuat halaman kita penuh batu dan debu
Kita saling tidak tahu, abaikan pohon cendana jadi abu.

2/…ke ukhwah. (Tulisannya entar dimiringin)
HARI INI, sadarlah, bahwa darah kita sama
Menghilir pada nadi tunggal yang bermuara di jantung hawa
Disusup tujuh wangi dari ujung jemari adam usai lempung dihidupkan
“Rukun menjadi manusia adalah ketika saling bersaudara,”
Wasiat adam kepada keturunannya di sela desau angin purba yang basah

Maka aku dan kau adalah kita, sedarah saudara
Mari kembali ke rahim hawa
Menjadi bayi kembali dengan tangis lirih dan hati putih
Meredam segala antipati, merabut diri di tangan sendiri
Sambil menakik sepi dengan butiran tasbih
Menuju jalan suci, seraya melihat tubuh lain sebagai tubuh sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *