Kadar Emas dan Qadar Diri (Sareng-Sareng Sinau Tasawuf tentang Lailatul Qadar)

Emas merupakan salah satu logam mulia paling dicari di muka bumi. Emas memiliki harga yang tinggi karena untuk mendapatkannya harus menambang cukup dalam perut bumi. Untuk menjadi emas tidaklah semudah membuat mie pangsit atau ondhé-ondhé. Menurut analisis yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Bristol (Inggris), emas berasal dari tabrakan meteorit lebih dari 200 juta tahun setelah Bumi terbentuk. Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature itu, selama pembentukan Bumi, besi cair tenggelam ke pusat planet untuk membentuk inti. Besi cair ini tidak memasuki perut Bumi sendirian, tapi membawa serta seluruh logam mulia. Inilah alasan kenapa magma yang membeku kemudian mengkristal dan akhirnya disebut sebagai emas. Selain dibutuhkan waktu yang lama sekali untuk menjadi emas, diperlukan suhu yang panasnya antara 700 °C sampai dengan 1.300 °C.

Kadar emas adalah pengukuran yang bertujuan untuk menentukan atau menetapkan tingkat kemurnian emas. Kadar emas murni adalah 24 karat. Setiap karat dari emas mengandung 1/24 dari keseluruhan. Misalnya, kamu beli kalung emas 22 karat, artinya kandungan emasnya 22 bagian, sementara 2 bagian lainnya merupakan kandungan lainnya, seperti tembaga, perak, platinum, dan jenis logam lainnya.

Lailatul Qadar adalah malam istimewa dan penuh kemuliaan, tetapi malam ini bukan hadiah yang murah meriah dan siap dijual obral. Malam ini merupakan malam dimana dirimu bisa mengukur atau menentukan atau menetapkan sejauh mana kadar dirimu bisa menahan hawa nafsu sehingga dapat mensucikan diri dan memurnikan diri. Bukan saja fisikmu yang harus bisa menahannya, tetapi dengan segenap jiwa atau hati harus bersih dari segala noda. Dan tidak serta merta tiba-tiba Malaikat menghampiri dirimu lantas memberikan kado kemuliaan itu secara cuma-cuma alias tidak seperti bagi-bagi kacang goreng.

Masuk bulan Ramadan, laksana masuk ke kawah Candradimuka. Raga dan jiwa kita diuji dengan cara digodok, dipanasi dan ditempa agar dirimu menjadi lebih tegar, kuat dan tangguh. Semua berjuang agar siap menanggung derita. Jadi setiap manusia harus bisa mengukur kadar dirinya dan bisa mencapai kadar dirinya yang murni, sebab bulan Ramadan adalah kado spesial dari Tuhan. Ia diberikan bagi orang-orang yang berakhlak mulia. Dibagikan kepada orang-orang yang berbuat baik, untuk insan yang berhati tulus dan ikhlas. Hati seorang manusia yang cinta kepada makhluk-Nya. Malam yang penuh rahmat dan kemuliaan itu dipersembahkan khusus kepada hati seorang hamba yang tawadhu’.

Inilah mengapa setiap orang memiliki “Laitul Qadar”. Jadi siapapun yang bisa mencapai kepada kadar dirinya, itulah yang lebih baik dari seribu bulan atas segala ibadah yang telah dilakukan sebelumnya.

Kalau dirimu sudah menemukan dan memiliki kadar dirimu yang sejati, tidak perlu lagi menanti datangnya bulan Ramadan untuk mendapatkan Lailatul Qadar. Setiap saat ia akan bersamamu dan kamu akan menjadi insan pilihan, rahmat serta kemuliaan-Nya terus mendampingimu selamanya.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu berkata, Kanjeng Nabi SAW bersabda, “Allah berfirman, “Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.”

Sebagai bahan introspeksi, berapa kadar kemurnian kemuliaan yang bersemayan di dalam hatimu dan hatiku? Seiring dengan waktu yang terus bergulir ini, semoga dengan Ilmu Jurus (Maju Terus) kita bisa memilikinya.

Maulana Jalaluddin Rumi berkata:

Jika tak kau pahami cinta itu apa?

Tanyalah malam!

Tanyalah dari wajah pucat

dan bibir yang kering.

(Tulisan diambil dari berbagai macam sumber)

**Rabat, 12 April 2022, Selasa Pon, Cuaca Cerah – PWJ12042022 ***

Kontributor: Bapak Prabowo Wiratmoko Jati (Mustasyar PCINU Maroko)

Editor: Wafal Hana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *