Ini Rahasia Mengapa Umat Nabi Muhammad Menjadi Umat Terbaik

Hand reaching for the sky

Suatu hari seseorang bertamu di kediaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sayangnya di rumah beliau sedang tidak ditemukan sesuap-pun makanan untuk sekadar disuguhkan kepada si tamu pada saat itu. Beruntung kemudian datanglah seorang sahabat Anshar dan mengajak si tamu untuk ia jamu di rumahnya. Sesampainya di rumah, si tamu dipersilakan masuk dan tak lama kemudian makanan ala kadarnya disuguhkan oleh tuan rumah. Namun sebelum menyuguhkan makanan, tuan rumah sudah mengisyaratkan kepada istrinya untuk mematikan lampu minyak di rumah itu saat makan nanti, seakan lampu tersebut tengah rusak dan berusaha dibetulkan. Akhirnya tuan rumah pun mempersilakan si tamu menikmati makanan dalam keadaan gelap bersama-sama, tuan rumah juga menjulurkan tangannya ke arah makanan kemudian berpura-pura tengah menikmati makanan itu juga. Padahal tak sepotong makanan menyentuh bibirnya.  Tamupun menikmati suguhan dengan senang hati.

Baca juga:

Hukum Mengucapkan Selamat Natal – Hasil Bahtsul Masail PCINU Maroko 2017.

SANTRI AND UNFINISHED ENLIGHTENMENT

Hari Santri, Merayakan Sikap Jalan Tengah

Subhanallah, keesokan harinya, rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu tuan rumah dan bersabda: “sungguh Allah SWT telah terkagum-kagum dengan tingkah kalian  kepada si tamu semalam”. Perbuatan mulia si Anshar ini Allah abadikan di dalam al-Qur’an, surat al-Hasyr ayat 9, yang sekaligus menjadi sebab turunnya (Asabab an-Nuzul) ayat tersebut:

وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهمۡ خَصَاصَةٌ۬

‌”Dan mereka mengutamakan [orang-orang Muhajirin], atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan [apa yang mereka berikan itu]”

Imam Sahl bin Abdillah Al-Tustary mengisahkan: Nabi Musa ‘alaihissalam memohon kepada Allah swt: ya Rabb, perlihatkanlah kepadaku sebagian derajat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya. Allah berfirman: “Wahai Musa, kamu tak mampu mendapatnya, tapi baiklah aku beritahu satu tingkat agung yang membuatku melebihkannya atasmu dan seluruh makhluk ciptaan-Ku. Kemudian Allah subhanallahu wa ta’ala memperlihatkan kepada Musa dari alam malakut. Musa ‘alaihissalam tercengang dan gemetar akan kemilau cahaya dan kedekatan derajatnya dengan Allah suhanallahu wa ta’ala. Musa bertanya: Ya Rabb, apa gerangan yang telah menjadikannya semulia ini?. Kemuliaan itu karena sebuah pekerti mulia yang Aku khususkan kepadanya, dan itu adalah itsar (mendahulukan yang lain). Wahai Musa, tiada seorang dari mereka yang dalam hidupnya pernah melakukan pekerti itu kemudian datang kepadaku, terkecuali aku malu untuk menghisab amalnya kelak, dan aku siapkan untuknya segala apa yang ia inginkan dari surga-Ku.

Khudzaifah al-Adawi menceritakan bahwa ketika perang yarmuk ia mendatangi para sahabat yang tengah gugur dan luka-luka. Dengan membawa sebotol air ia mencari sepupunya yang dikabarkan tengah mengalami luka serius. Dalam hatinya, barangkali sepupunya nanti sangat membutuhkan air untuk sekedar membasahkan tenggorokan atau mengusap wajahnya. Benar, ia menemukannya dalam keadaan sakaratul maut dan sangat memerlukan air,  tuturnya. Ia pun menawarkan minum kepadanya dan iapun mengiyakan. Namun seketika itu ada suara mengerang, aaah, terdengar dari arah seorang mujahid lain. Sepupunya pun segera menolak dan mengisyaratkan untuk memberikan minumannya kepada mujahid tersebut. Khudzaifah segera mendatanginya dan ternyata ia adalah sahabat Hisyam bin al-’Ash. Sama seperti sebelumnya, terdengar lagi suara erangan dari arah lain. Hisyam pun mengisyaratkan kepada Khudzaifah untuk memberikan air itu kepada yang lain itu. Khudzaifah segera melesat ke arah suara dan ternyata ia telah terlebih dahulu meninggal, khudzaifah kembali ke Hisyam, ia pun telah wafat, kembali kepada sepupunya, ia pun telah berpulang ke pangkuan-Nya dalam keadaan itsar, sebuah pekerti tertinggi dari kemurahan hati seseorang hingga dalam keadaan sakaratul maut. Allahu akbar. Semoga rahmat Allah senantiasa menyelimuti mereka.

Murah hati adalah  salah satu dari akhlak Allah swt. Yang derajat tertingginya adalah itsar. Yakni sebuah sikap mengutamakan orang lain atas diri sendiri meski sebenarnya ia sendiri membutuhkannya. Akhlak inilah yang selalu menghiasi kehidupan para sahabat selaku para santri didikan langsung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mulai dari nol bahkan disebut bangsa jahiliyah hingga kemudian senantiasa dipuji oleh Allah SWT sebagai umat terbaik sepanjang sejarah kehidupan manusia. Pertanyaannya adalah, di manakah kita  berada di antara perilaku mulia itu?. Jangankan mengutamakan orang lain, untuk sekadar tidak merepotkan sesama pun masih belum bisa dikatakan mampu. Mungkin karena terkesan sebagai sesuatu yang biasa hingga tak begitu terasa bahwa piring dan gelas kotor sisa tadi malam telah merepotkan kawan serumah kita.

Itsar, sebuah pekerti yang seakan hilang dan sulit kita temukan dalam kehidupan kita saat ini. Zaman berebut untung dan kuasa bahkan atas hak saudaranya sendiri.

Namun demikian, bukan berarti ia musnah sama sekali. Bukankah bisa saja ia berawal dari hal terkecil dan dari diri kita sendiri. Sehingga kemudian masing masing terlatih untuk melakukannya, dan pada akhirnya menjadi pekerti sosial masyarakat yang sangat didambakan oleh kita bersama sebagai pesan damai bahkan unsur utama bagi persaudaraan seluruh umat manusia, disayangi sesama dan mulia di hadapan Rabb ‘Azza wa Jalla.

***

Muhammad Makhludi
Rais Syuriah PCINU Maroko

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *