Biografi SYEKH ABU ADBILLAH MUHAMMAD Bin UJJAL AL GHOZWANY

0
675

SYEKH ABU ADBILLAH MUHAMMAD Bin UJJAL AL GHOZWANY

PENDAHULUAN

Kerajaan Maroko merupakan salah satu Negara yang banyak mewarisi khazanah Islam yang lengkap. Dalam sejarahnya, Negeri ini adalah pintu masuknya Islam ke Benua Biru atau dulu disebut Andalusia yang sekarang lebih tekenal dengan nama Spanyol, dikarenakan Maroko terletak dibagian utara Afrika yang bersebrangan secara langsung dengan Spanyol yang hanya di batasi selat Gilbaltar.

Negeri ini juga disebut Maghrib atau tempat terbenamnya matahari, juga disebut sebagai Negri seribu benteng karena setiap sudut kota disini dikelilingi oleh benteng – benteng.

Perkembangan Islam dan ilmu pengetahun di Maroko menjadi salah satu bagian penting dari sejarah Islam,terlebih untuk wilayah Maghrib yang meliputi Afrika Utara dan Andalusia. Banyak ilmuan besar yang hadir dari wilayah ini seperti Ibnu Aroby, Ibnu Batutah, Al Qodi Iyyad, Al Jazuli, Ibnu Ajjurum dan masih banyak lagi.

Corak Islam yang berkembang disini mengikuti faham sunni dalam aqidah dan bermadzhab maliky dalam fiqh. Kebanyakan ulama Maroko kental dengan nuansa sufismenya karena memang sejak abad ke VII banyak pendiri thoriqoh yang berasal dari sini. Diantaranya, thoriqoh Tijaniyah yang didirikan oleh Syech At-Tijany dan toriqoh Daraquiyyah oleh maulana Araby Darqowi di Fez. Jadi, sudah hal yang wajar bila tasawuf berkembang pesat disini, lengkap dengan faham tasawuf sunninya atau tasawuf akhlaq yaitu tasawuf yang mengikatkan diri dengan Al-Quran dan Al-Hadits. Namun, diwarnai pula dengan interpretasi – interpretasi baru dan menggunakan metode-metode baru yang belum dikenal pada masa generasi awal.

Diantara sufi yang mengikuti madzhab tasawuf sunni ialah seseorang yang akan kita jelaskan, yaitu maulana Abu Abdillah Al-Ghozwany. Beliau murid Syekh Tabba Fez, yang tak lain adalah muridnya Syekh Sulaiman Al-Jazuli, pengarang Dalail Khoirot. Sedangkan Al-Jazuli ialah muridnya Syekh Syadzily Tunis. Jadilah beliau penerus dan penyebar ajaran gurunya ini.

KELAHIRAN

Syekh Maulana abu Abdillah Muhammad bin Ujjal Al Ghozwany Al Murokusyi As Syadzily lahir dikota Marakes. Al Gozwany merupakan penisbatan pada kabilah asal arab yang tinggal di Maroko. Beliau besar dibawah bimbingan wali yang mashur, yaitu Syekh Muhammad Al Ghozwany yang tak lain merupakan ayahanda beliau sendiri, sedangkan As Syadzily merupakan penisbatan pada thoriqoh Syadziliyah.

Beliau juga terkenal sebagai arsitek mahir. Al Ghozwany memulai rihlah ilmiahnya menuju kota Fez sekitar 455 KM dari kota kelahiranya. Fes merupakan sebuah kota tua dan salah satu kota peradaban yang terkenal sebagai kota para ilmuan. Beliau masuk di Madrasah Al Wady dan hidup bersama Syekh Aby Hasan Ali bin Soleh Al Andalusy. Al Ghozwany belajar bersama Syekh Hasan Ali cukup lama, dikisahkan sampai akhir hayat sang guru.

Sepeninggal Syekh Hasan, beliau kembali ke negri asalnya, Marakes, untuk berguru kepada Syekh Abdul Aziz Tubba dan belajar bersamanya sekitar sepuluh tahun. Selama belajar, beliau sangat rajin sehingga dapat mengalahkan teman – temanya dan menguasai berbagai bidang ilmu. seperti hadits, fikih, tafsir, tasawuf dan lainnya.

Al Ghozwani terkenal dengan kecerdasanya sehingga beliau diperintah mendirikan zawiyah dan mengajar dengan kepiauan beliau. Keikhlasanya dalam berkhidmah kepada gurunya membuatnya mendapat banyak keberkahan, sehingga banyak pengikut dan murid berdatangan berguru kepada beliau. Diantara murid – muridnya yang terkenal ialah Syekh Abdul Karim Al Fallah, Syekh Rehaul Kusyi, Syekh Ali bin Ibrohim, Syekh Said bin Mun’im, Abu Muhammad Abdulloh bin Sasy (pendiri zawiyah ditepi lembah Marakes) 961 H, Sayyid Abdulloh bin Husain Al Amgory 976 H (pendiri zawiyah di Balsamloat), Abul Hajjaj At Talidy 950 H, Abul Baqo Abdul Warits bin Abdulloh.

Dikisahkan ketika musim paceklik, disamping beliau mengajar, juga memberi makan semua murid dan jama’ah toriqohnya, mendahulukan kepentingan jama’ahnya dan juga suka membuka lahan baru. Itu menandakan peranan beliau dimasyarakat sangat sentral tidak hanya menuntun intelektual, namun juga menopang kehidupan tidak terbatas dalam lingkup zawiyah saja. Ini bukti mulai dari zaman dulu ulama selalu menjadi pelindung dan penerang manusia, dengan kehadiranya membuat manusia lebih berarti dan mengerti kehidupan.

Menurut Muhammad Al Mazuny dalam kitab zawiyah tamsilhut abad 16 : “peranan Al Ghozwany dalam perekonomian Marakech sangat penting. Beliau senang mengolah tanah dan menggali sumur untuk sumber kehidupan masyarakat. Kemampuan beliau seperti itu sudah nampak sejak di Fez. Dengan begitu, semua masyarakatnya tak sedikit yang bergantung kepadanya dan itu mempermudah beliau dalam berdakwah”.

Syekh Al Ghozwany hidup dalam lingkungan tasawuf, sehingga beliau mencuat sebagai tokoh sufi besar, memodifikasi faham syariah melalui tasawuf. Ini merupakan metode ulama salaf yang mungkin sekarang sangat jarang ditemukan ulama yang bermadzhab ini. Menyelaraskan fiqh dengan tasawuf itu akan lebih mendekatkan kepada Allah SWT, karena ada ungkapan “orang yang belajar fiqh dan tidak belajar tasawuf maka akan terjerumus pada kefasikan.

Sedangkan orang yang belajar tasawuf dan tidak belajar fiqh maka akan terjerumus pada kekufuran”. Seperti para gurunya, Syekh Abu Abdillah Al Ghozwany mengikuti toriqoh Syadziliyah Jazuliyah, sebuah kodifikasi toriqoh yang didirikan oleh wali agung Syekh Abul Hasan Ali bin Abdulloh bin Abdul Jabbar Asy Syadzily (593-656 H). Dan juga pengikut toriqoh Jazuliyah yang didirikan oleh Syekh Sulaiman Al Jazuli pengarang kitab Dalail Khoirat yang wafat pada tahun 870 H.

uKearifan beliau diturunkan kepada murid – muridnya dengan berwasiat agar meninggalkan berlebihan atau melakukan hal yang tidak ada manfaatnya, meninggalkan kemewahan duniawi, menghabiskan waktu untuk selalu berdzikir kepada Allah SWT serta memperbanyak solawat kepada Nabi Muhammad SAW.

KARYA KARYA AL GHOZWANY

Disamping aktif dalam belajar dan mengajar, Syekh Abu Abdillah Al-ghozwany juga produktif dalam karya tulis yang menjadi bukti kebesaranya sebagai sufi dan jawaban atas kealimanya.

Diantara karya – karya beliau ialah : Kitab an_nuktoh al azaliyah fisirridzati al ilahiyah, kumpulan sya’ir Al Ghozwany mencapai 2400 bait dan kitab tanya jawab beliau dengan sebagian gurunya, seperti Syekh Al Laqony dan Syekh Hibty, kumpulan doa-doa beliau, kitab kalamuhu ‘an toriqoh walmaqoomat wattarbiyah walmasyikhoh, kitab sirotuhu adzatiyah wa’alaqotuhu bisyeikhihi, dan masih banyak lagi.

Dikisahkan pada suatu malam di bulan ramadhan, beliau keluar mengisi pengajian di suatu tempat antara dua kabilah yang saling bertikai. Mendengar kehadiran beliau, membuat kedua kabilah ini bisa rukun, duduk bersama mendengarkan nasihat dan berdzikir bersama. Pengajian berlangsung semalaman sampai fajar. ketika meraka sadar belum melaksanakan sahur, akhirnya salah satu dari mereka berkata pada Syekh perihal sahur mereka. kemudian syekh berdiri dan berkata pada malam itu “wahai malam atas perintah Allah kembalilah”.

Seketika malam kembali gelap dan Syekh memerintahkan mereka melakukan sahur. Setelah semuanya menyelesaikan sahurnya, malampun berubah kembali terang, fajar menyingsing. Dan masih banyak lagi karomah beliau yang terjadi atas izin Allah SWT.

WAFAT

Syekh Abu Abdilah Al Ghozwany menghadap kehadirat Allah SWT di kota Marakes pada tahun 935 H. Dan pusaranya ini ramai di ziarahi seperti halnya Wali Songo di Indonesia. Semoga Allah SWT merahmatinya, mengampuni segala kesalahanya serta menggolongkannya kedalam golongan orang – orang yang soleh dan semoga keberkahannya mengalir kepada kita, Amin.

Referensi :
– Thobaqot syadziliyah.
– Https// assabah.ma.
– Almuthorib bi masyahir awliya almaghrib, talidy /104.

(Yusuf Muhtadi Ali)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here