Berbuka dengan bangkai.

0
397

karya : Avika afdhiana khumaedi

Bulan Ramadhan adalah momen melatih kesabaran. Jangan cepat tersulut nafsu amarah. Kebiasaan yang selalu tak tertinggal dari gerombolan Ibu-ibu atau ciwi-ciwi ada 1 hal yang tak bisa di hilangkan, yaitu ngerumpi atau ngegosip entah apapun itu hal yang akan mereka bicarakan.

Bani Adam adalah makhluk yang lemah, serba kekurangan, dan menjadi tempat kesalahan. Demikianlah fakta yang akan dijumpai bila setiap orang jujur akan hakikat dirinya. Ia lemah dari segala sisi: tubuhnya, semangatnya, keinginannya, imannya, dan lemah kesabarannya.

So dibulan ramadhan ini coba yuk kita renungkan bareng-bareng dari ayat al qur’an ini. “Jangan sampai kita makan bangkai di buka puasa kita sedangkan dalam kenyataan nya diatas meja makan terdapat makanan berlimpah dengan segala macam nya”

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Dan janganlah kalian saling menggunjing. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hujurat: 12).

Allah SWT menyamakan orang yang mengghibah saudaranya seperti memakan bangkai saudaranya sendiri.

hakikat lisan sebagaimana ucapan Abu Hatim rahimahullah, “Lisan memiliki peraba tersendiri yang tidak hanya digunakan untuk mengetahui asin atau tidaknya makanan dan minuman, panas dan dingin, atau manis dan pahit. Lisan sangat tanggap apabila telinga mendengar sebuah berita, baik atau buruk, benar atau salah. Sangat tanggap pula bila mata melihat suatu kejadian, baik atau buruk. Lisan dengan mudahnya bercerita dengan mengumbar apa saja yang menyentuhnya. Ingatlah, lidah itu tak bertulang.”

Kapan Boleh Mengghibah?

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Ghibah dibolehkan dengan tujuan syariat yang tidak mungkin mencapai tujuan tersebut melainkan dengannya.”

Dibolehkan ghibah pada enam perkara:

  • Ketika terzalimi.
  • Meminta bantuan untuk menghilangkan kemungkaran.
  • Meminta fatwa.
  • Memperingatkan kaum muslimin dari sebuah kejahatan atau untuk menasihati mereka.
  • Ketika seseorang menampakkan kefasikannya.
  • Memanggil seseorang yang dia terkenal dengan nama itu.
    (Riyadhus Shalihin, bab “Apa-apa yang Diperbolehkan untuk Ghibah”)

والله أعلم

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here